Showing posts with label Liputanku. Show all posts
Showing posts with label Liputanku. Show all posts

MENUAI BERKAH DARI PANEN SRIKAYA DI LAHAN KRITIS



Para petani Srikaya di Desa Bluri Kecamatan Paciran Lamongan Jawa Timur, menuai berkah dengan panen raya buah Srikaya yang mereka tanam di lahan kritis (21/02/2012.) Rata-rata, 5 sampai 10 ton buah Srikaya mampu mereka jual setiap harinya dengan omset mencapai jutaan Rupiah.

Bulan Februari ini hingga Juni ke depan, adalah masa panen raya buah Srikaya. Setiap hari, mereka memanen dari pohon-pohon Srikaya yang sengaja mereka tanam di sela-sela tanaman jagung, cabe dan tanaman palawija lainnya, termasuk pula di pekarangan rumah.

Desa Bluri, memang di kenal sebagai sentra penghasil buah Srikaya terbesar di Lamongan. Ratusan hektar tanah di desa ini, di kenal tandus karena bercampur bebatuan kapur. Bahkan, di musim kemarau, areal pertanian di biarkan terlantar karena sulitnya mendapatkan air.

Namun, sejak 3 tahun terakhir, warga mencoba menanam pohon Srikaya di lahan pertanian mereka. Hasilnya, setiap hari, mereka mampu memanen tak kurang dari 3 kwintal buah Srikaya untuk setiap hektarnya. Masa panen ini akan terus berlangsung hingga bulan Juni ke depan.

Menurut para petani, pohon Srikaya termasuk jenis tanaman yang mudah tumbuh di areal tanah tandus sekalipun. Bahkan, pohon Srikaya mampu bertahan pada musim kemarau panjang sekalipun. Karena itu, pohon Srikaya kemudian menjadi satu-satunya pilihan para petani untuk menopang perekonomian mereka.

“Pohon Srikaya ini termasuk tahan banting dengan musim kemarau bahkan dengan hama sekalipun”, ujar Zaidi, salah seorang petani Srikaya.

Di tingkat petani, harga jual Srikaya berkisar antara 300 hingga 800 Rupiah perbuah, tergantung kualitasnya. Sementara, di tingkat pedagang bisa mencapai antara 1.000 hingga 1.500 Rupiah perbuah.

Di samping di jual langsung ke sejumlah kota-kota sekitar seperti Tuban dan Gresik, tak sedikit pula para pedagang yang datang ke desa ini untuk membeli langsung dari petani. Bahkan, tak jarang sebagian warga luar kota, sengaja datang ke desa ini untuk menikmati langsung buah Srikaya yang baru di petik dari pohonnya. Apalagi, buah Srikaya di kenal memiliki serat cukup tinggi sehingga sangat bagus untuk pencernaan.

Para petani pun berharap, pemerintah setempat, menjadikan desa mereka, sebagai salah satu desa agrowisata, agar penjualan buah Srikaya semakin besar.

PLETOKAN BAMBU, MAINAN ANAK-ANAK TRADISIONAL YANG AMAN



Senapan mainan kadang berbahaya jika disalahgunakan oleh anak-anak. Bahkan dapat menyebabkan kebutaan jika terkena mata. Namun berbeda dengan yang dilakukan oleh anak-anak di Madura Jawa Timur, mereka membuat sendiri senapan pletokan dari bambu. Meski sama-sama seru dan asyik dalam bermain, senjata mainan tersebut tidak berbahaya karena pelurunya terbuat dari kertas basah.

Senapan bambu yang dimainkan oleh anak-anak di desa Larangan Tokol kecamatan Tlanakan Madura–Jawa Timur misalnya, masih cukup digemari anak-anak. Selain murah, juga tidak berbahaya.

Untuk membuat senapan bambu, mereka juga tidak mengeluarkan biaya sama sekali. Sebab bahan-bahannya dari ranting bambu didapat di pekarangan atau kebun bambu secara gratis pula. Pletokan dibuat dari bambu, panjangnya sekitar 30 cm. Bambu dipilih yang kuat dan tua supaya tidak cepat pecah. Bambu dibagi dua, satu untuk penyodok, dan satunya lagi diraut bundar sesuai dengan lingkaran laras dan bagian pangkal dibuat pegangan sekitar 10 cm.

Peluru dibuat dari kertas yang dibasahkan, atau juga dari bunga jambu air yang masih muda. Caranya, kertas di basahi air, lalu di dimasukkan ke lubang laras sampai padat lalu disodok.

Meski gratis, mereka mereka mengaku sangat senang memainkan permainan perang-perangan dari senapan bambu yang oleh anak-anak setempat di kenal dengan nama TOR CETOR.

Suara letusan dari laras senapan ini juga tak kalah dengan senjata mainan yang banyak dijual di toko-toko mainan anak. Bahkan, suaranya tidak membuat bising dan tidak mengejutkan siapa saja yang mendengarnya. Sejumlah anak mengaku, jka terkena sasaran senapan bambu, tidak sakit.

Meski banyak mainan serupa yang lebih modern, mereka tetap senang dengan mainan senapan bambu ini. Permainan yang sering dimainkan sejumlah anak antara lain dengan meniru adegan film action atau perang, selain asyik, mereka dapat saling serang dan saling kejar. Mereka tidak khawatir sakit meskipun terkena mata ataupun bagian tubuh lainnya.

Banyaknya kasus anak yang menjadi korban permainan senapan buatan pabrik, tentu saja tidak ada salahnya jika senapan bambu ini dijadikan alternatif sarana menyalurkan kegembiraan anak, sekaligus melatih motorik mereka.

BERNOSTALGIA DENGAN KOLEKSI JAM DINDING TEMPOE DOELOE



Suwan (45), memiliki hobi berbeda dari orang kebanyakan orang. Warga desa Pucung Kecamatan Balongpanggang, Gresik tersebut, senang mengumpulkan jam kuno. Hal ini dilakukannya sejak Suwan masih duduk di bangku sekolah SMP sekitar tahun 80-an.

Hobi Suwan inilah yang membuat rumahnya dipenuhi jam kuno, mulai ruang tamu, ruang keluarga, hingga ruang tidur yang kesemuanya terpajang di dindingnya.

Menurut Suwan, jam antiknya ini, dia kumpulkan dari berbagai kota di pulau jawa. Saat ini jumlahnya sudah mencapai sembilan puluh jam.

Untuk memperoleh jam kuno, Suwan rela berburu ke sejumlah kota di pulau jawa serta banyak berkomunikasi dengan kenalannya sesama kolektor.

Usia jam koleksi Suwan beragam. Sebagian adalah buatan Belanda, Jerman, hingga Italia, termasuk jam buatan jerman tahun 1930 merek Jung Hans yang di kenal dengan tipe perempatan, karena akan berbunyi setiap 15 menit.

Uniknya lagi, puluhan jam antik milik Suwan ini, masih berfungsi dengan baik dan sebagian besar masih orisinil. Sehingga pada jam-jam tertentu, rumah Suwan penuh dengan suara jam yang berdentang bersamaan.

Menurut Suwan, jam-jam kuno ternyata lebih kuat dan tahan lama di banding jam modern. Terbukti, perawatannya tidak sulit dan mampu bertahan puluhan tahun. Perawatannya menurut Suwan, cukup dengan membersihkannya secara rutin termasuk menambahkan minyak pelumas ke beberapa bagian saja. “barang-barang kuno itu kualitasnya memang sangat bagus, dan tak gampang rusak”, ujarnya.

Di samping mengkoleksi jam dinding, Suwan juga mengkoleksi jam waker kuno, radio kuno hingga sepeda kuno.

Semula Suwan menyatakan tidak akan menjual koleksi barang-barang antiknya. Namun, jika ada yang berminat membeli, Suwan tidak keberatan untuk melepas koleksinya, asal harga sesuai harapannya.

GAYA BARU TATO TEMPORER DAN KEPANG RAMBUT DI PANTAI KUTA



Mengunjungi objek wisata pantai Kuta Bali di musim liburan, tidak semata hanya bisa menikmati keindahan pantai kuta terutama saat sunset, tetapi bisa merasakan sensasi gaya baru. Hampir sebagian besar wisatawan yang berkunjung ke objek wisata internasional tersebut, menyempatkan diri untuk mengubah penampilan menjadi lebih sensasi bergaya anak pantai.

Salah satunya adalah membuat tato sementara (temporer) di tubuh mereka serta mengkepang rambutnya ala penyanyi musik Reagae Bob Marley. Tak ayal, dua penawar jasa ini pun ramai peminat, terutama saat para wisatawan menanti turunnya matahari terbit atau sunset.

Di akui para penjual jasa tato temporer dan penjual jasa kepang rambut, Sejak musim liburan, jumlah pengguna jasanya meningkat dua kali lipat. Dalam sehari mereka bisa menerima pengguna jasa antara sepuluh sampai lima belas orang. Harganya pun bervariasi, untuk sekali tato temporer adalah 25 Ribu Rupiah dan kepang rambut 20 Ribu Rupiah.

Bahkan, sejumlah wisatawan yang berkunjung ke pantai kuta mengaku, terasa belum pas datang ke Bali bila rambut belum dikepang dan tubuh belum ditato temporer. Hal
ini semata untuk gaya baru selama berlibur, soalnya sifatnya hanya sementara.

Untuk tato umurnya dua minggu, tinta akan terhapus dengan sendirinya di dalam tubuh. Selain itu, mereka juga mengaku untuk kedua jenis jasa ini cukup terjangkau.

MELATIH KEBERANIAN MENTAL ANAK LEWAT PERMAINAN AIR


Anak adalah aset bangsa yang tak ternilai harganya, masa depan bangsa di tentukan generasi yang berkualitas. Metode mendidik mental dengan berwisata petualangan, bisa menjadi salah satu alternatif melatih mental dan keberanian anak.

Nah! Sarana yang cocok untuk metode ini, bisa di temukan di Wahana Banyuwong Zona Adventure, di Jalan Singomerto kota Banjarnegara, Jawa Tengah. Dengan harga paket antara 100 Ribu Rupiah hingga 250 Ribu Rupiah untuk setiap anak, mereka bisa menikmati aneka permaian yang mampu menguji dan melatih keberanian mereka. Seperti arung jeram, flying fox, lomba tangkap ikan dan permainan menantang lainnya.

Permaian yang disediakan di sesuaikan dengan kemampuan anak. Untuk arung jeram misalnya, hanya menempuh jarak 500 meter saja. Sebelum bermain, perlengkapan keselamatan seperti pelampung dan helm harus di kenakan. Anak akan di bawa ke arus deras untuk menghilangkan pobia terhadap air. permainan ini juga di harapkan mampu mendidik anak agar bisa bekerja dengan tim, serta menghilangkan sifat egois. Karena dalam permainan ini, di tuntut kerja sama yang baik.

Setelah melewati derasnya arus, permainan selanjutnya adalah jembatan goyang, setiap anak di berjalan pada ketinggian 5 meter dengan melewati rintangan tali yang tergantung. Permainan ini di maksudkan untuk melatih ketangkasan, serta menghilangkan phobia anak terhadap ketinggian.

Selanjutnya permainan flying fox di lakukan dengan menyeberangi sungai sepanjang 200 meter. Dan yang terakhir, berlomba menangkap ikan. Puluhan anak berkumpul dalam satu kolam untuk menangkap ikan yang telah di sediakan. Ikan-ikan hasil tangkapan pun bisa di bawa pulang.

Bagi Anda para orang tua yang ingin anaknya memiliki kecerdasan mental ataupun fisik, tak ada salahnya mencoba metode ini.

MANFAATKAN LIBUR SEKOLAH, SISWA BERLATIH CABUT DURI BANDENG



Memanfaatkan libur sekolah, sejumlah siswa di Gresik Jawa Timur, tekun berlatih mencabut duri bandeng, di sentra penghasil Bandeng Tanpa Duri, atau Batadu. Selain mendidik anak-anak menjadi lebih terampil, kegiatan siswa ini, diharapkan menjadi bekal berwiraswasta kepada mereka kelak setelah dewasa (03/01/2012.)

Cabut duri bandeng, menjadi hiburan tersendiri, saat memasuki libur panjang sekolah, bagi sejumlah anak-anak di desa leran, kecamatan manyar, kabupaten gresik, yang terkenal sebagai sentra penghasil bandeng tanpa duri, di gresik.

Pelatihan cabut duri bandeng ini, tidak mereka lakukan sehari penuh, melainkan hanya sekitar tiga sampai empat jam, per hari, atau memanfaatkan waktu luang, di sela-sela libur tahun baru. Aktivitas pelatihan ini, dijalani dengan penuh suka cita, bahkan juga diwarnai canda-ria, khas anak-anak.

Berbekal pisau tajam, dan sebuah pinset, atau alat yang biasa mereka gunakan untuk mencabut jenggot, para siswa ini, mencabuti satu - persatu duri-duri bandeng, yang terletak di bagian punggung, tengah, dan perut.

Nuril Irfan, salah seorang siswa SMP, mengatakan, butuh ketelatenan, dan kesabaran, karena durinya kecil-kecil, dan jumlahnya cukup banyak. Menurutnya, kegiatan ini cukup bermanfaat bagi anak-anak, terutama saat masa libur panjang sekolah, dari pada, menghabiskan waktu libur sekolah, hanya dengan bermain.

Pihak perajin usaha bandeng tanpa duri, sengaja memberikan kesempatan kepada anak-anak, yang pingin belajar, agar mereka memiliki bekal keterampilan berwiraswasta, kelak setelah dewasa.

Sekarang ini, sangat sulit mencari tenaga pencabut duri yang bisa diandalkan. Padahal permintaan pasar terhadap bandeng tanpa duri cukup tinggi, sehingga potensial menciptakan lapangan kerja baru.

Bandeng tanpa duri, produk sentra batadu di desa leran, kecamatan manyar, dijual dengan harga bervariatif, mulai dari 40 Ribu Rupiah, hingga 60 Ribu Rupiah, perkilogram, karena bergantung ukuran bandengnya.

SISWA CIPTAKAN ALAT DETEKSI BANJIR VIA SMS



Seringnya musibah banjir yang kerap melanda wilayah gresik memicu dua siswa Sekolah Menengah Kejuruan 01 Muhammadiyah, di Kecamatan Bungah, Gresik – Jawa Timur, untuk membuat alat digital pendeteksi datangnya banjir (19/12/2011). Keduanya yakni, Mohammad Faizal Zulmi dan Halwi Yudiapratama. Mereka adalah siswa kelas satu, jurusan teknik elektro industri.

Prinsip kerja alat ini adalah menghubungkan beberapa elemen elektronik, dengan media komonikasi berupa handphone. Diantara komponen yang di butuhkan yakni, micro control, selang pipa, kabel, modem, lampu, speaker alarm, serta beberapa alat pendukung lainnya.

Proses pembuatan alat ini memakan waktu hingga tiga bulan. Lamanya pembuatan alat ini, dikarenakan harus memasang alat micro yang disimpan didalam pipa kecil, sebagai tiang kontrol ketinggian air. Didalam pipa, terdapat empat buah alat micro control untuk menunjukkan tanda siaga satu, hingga siaga empat.

Alat tersebut kemudian dimasukkan kedalam pipa plastik.sementara diluar pipa, di tambahkan gabus yang didalamnya terdapat elemen magnet, untuk mempengaruhi mikro kontrol yang ada didalam pipa. Gabus yang melingkar diluar pipa, akan naik turun mengikuti ketinggian air.

Saat gabus naik, maka magnet didalam gabus akan mempengarui, micro kontrol dan selanjutya lampu indikator akan menyala, yang juga di ikuti oleh terkirimnya informasi tingkatan siaga melalui modem. Informasi tersebut akan terkirim ke sejumlah nomor hp yang sudah di program.

Untuk siaga empat, ketiga lampu indikator baik yang warna hijau, kuning maupun merah, akan padam, tetapi akan menghasilkan bunyi alarm yang keras sebagai tanda bahaya. Informasi melalui pesan singkat, akan sampai ke nomor tujuan secepat mungkin. “Nomor HP yang di kirimi pesan adalah tokoh masyarakat pengambil kebijakan seperti Bupati, Camat, Lurah, Dandim Dan Kapolres”, ujar Mohammad Faizal Zulmi, pembuat alat detektor banjir via SMS.

Rangkaian alat sederhana seharga kurang lebih 500 ribu rupiah ini tidak bisa langsung di letakkan di bibir sungai agar tidak rusak, melainkan diletakkan beberpa meter sekitar bibir sungai, dengan menggunakan pipa sebagai media penghubung.

Kedua siswa ini berharap, dengan alat pendeteksi dini banjir ini dapat memberikan manfaat bagi masyarakat, terutama yang tinggal dikawasan rawan bencana, seperti sekitar sungai Bengawan Solo.

BAK SAMPAH DARI LIMBAH TUTUP BOTOL KARYA SISWA



Sampah tak selamanya menjadi sumber penyakit dan berbagai persoalan lainnya. Di Gresik Jawa Timur, sejumlah siswa berhasil menciptakan bak sampah dari limbah tutup botol air mineral. Di samping unik dan ramah lingkungan, pembuatan bak sampah tersebut, tak memerlukan biaya sama sekali.

Puluhan peserta lomba mendaur ulang sampah, tampak serius mengikuti ajang daur ulang sampah yang di gelar panitia Pameran Buku Islam (Islamic Book Fair 2011) di halaman Gedung Nasional Indonesia (GNI) kota Gresik (10/12/2011.) Peserta yang rata-rata siswa sekolah menengah atas tersebut, menunjukkan kebolehannya dalam mendaur ulang berbagai jenis sampah yang ada di sekitar lingkungannya.

Berbagai karya pun muncul dalam ajang yang baru pertama kali di selenggarakan di kota gresik ini. Di antaranya, sandal dari limbah koran, lukisan kota mati dari limbah tissue serta berbagai kreatifitas lainnya.

Saah satu yang menarik perhatian pengunjung adalah bak sampah yang terbuat dari tutup botol air mineral karya siswa SMA Negeri Driyorejo, Gresik. Tutup air mineral yang bagi kebanyakan orang, di anggap sebagai barang tak berguna, justru berhasil di manfaatkan untuk membuat bak sampah dengan cara merangkainya dengan kawat hingga terbentuk rangkaian memanjang yang mudah di tekuk.

Untuk sebuah bak sampah, setidaknya di perlukan 220 tutup botol yang dirangkai menjadi dua bagian, yakni bagian bak dan bagian dasarnya. Uniknya lagi, tutup bak sampah ini, terbuat dari rangkaian sendok plastik berbentuk lingkaran.

Menurut Novan Noviansyah, salah seorang siswa pembuat bak sampah, ide awal menciptakan bak sampah dari tutup botol ini bermula saat mereka melihat banyak sampah tutup botol yang terbuang percuma, karena tidak pernah di manfaatkan. “Selama ini, fokus daur ulang hanya pada botol air mineral saja, sedangkan tutupnya selalu di buang”, ujar Novan.

Dengan bahan utama tutup botol, para siswa yakin, bak sampah karyanya, akan bisa di manfaatkan dalam kurun waktu hingga 5 tahun. Di samping itu, pembuatan bak sampah ini, tidak memerlukan biaya sama sekali karena semua bahannya terbuat dari limbah yang bisa di dapat di tempat pembuangan akhir.

Bak sampah dari tutup botol air mineral ini, selanjutnya bersaing dengan 15 karya siswa lainnya yang menjadi peserta lomba daur ulang sampah, untuk di nilai sebagai pemenang.

Sementara itu, Panitia lomba sengaja menggelar kegiatan ini untuk menjaring aspirasi dan ide kreatif remaja dalam mengolah sampah. Apalagi, Gresik sebagai kota industri memiliki limbah sampah yang cukup tinggi sehingga perlu kreatifitas tersendiri dalam penanganannya.

“Kita ingin menggugah kesadaran masyarakat terutama kalangan generasi muda untuk peduli dengan lingkungan terutama pemanfaatan sampah hingga bisa menjadi uang”, kata Hendra Ikhawan, salah seorang panitia.

KOLEKSI SEPEDA MOTOR KUNO BUKAN SEKEDAR HOBI



Jika anda termasuk penghobi otomotif, tidak salah jika anda mengkoleksi berbagai merek motor kuno. Selain unik, klasik, dan memiliki nilai sejarah, motor kuno memiliki nilai ekonomis tinggi karena bisa menghasilkan uang Ratusan Juta Rupiah.

Bermula dari suka dengan motor kuno, akhirnya Ahmad Saefullah warga Ngembalrejo, Kecamatan Bae, Kudus, Jawa Tengah, mulai berburu dan mengkoleksi motor-motor kuno, dari berbagai belahan dunia. Mulai dari Jakarta, Singapura, Amerika, Jerman, bahkan hingga ke kawasan Timur Tengah pun ia rela untuk mendapatkan motor kuno yang di inginkannya.

Berbagai merk motor buatan Jerman, Amerika, Eropa, seperti Ariel, BSA, Smechless, Norton Azs, BMW, BSA, Honda, DKW, Sunbeam, Mz Shark, Obilet, sampai Vespa pun dikoleksinya.

Untuk perawatan, Saefullah harus menghabiskan uang hingga jutaan Rupiah. Service berkala, maintenance alat serta tune up motor pun tidak sembarangan dilakukan. Ia bersama teman sesama pengkolektor motor kuno pun saling berbagi teknik perawatan motor kuno agar awet dan dapat berjalan seperti saat pertama diproduksi.

Untuk mendapatkan sparepart motor motor kuno koleksinya, Saefullah mencari ke sesama kolektor, barter atau berburu onderdil hingga hingga ke negara tempat motor kuno ini diproduksi.

Memang tidak mudah untuk mencari sparepart motor kuno ini. Namun, berkat saling tukar informasi sesama kolektor dari berbagai penjuru negeri bahkan luar negeri, Saefullah tidak kesulitan mendapatkannya.

Kini koleksi saefullah menjadi incaran para penggemar motor kuno yang datang dari berbagai wilayah di Indonesia, seperti Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Jakarta, Solo, bahkan mancanegara, seperti Jerman, Belgia. Setiap bulan dua hingga empat motor laku terjual.

Soal harga motor bervariasi, antara 20 Juta sampai 500 Juta Rupiah. Tentunya nilai keunikan, sejarah dan peninggalan tokoh penting, turut menaikkan harga motor kuno ini. Dari hobi mengkoleksi motor kuno tersebut, Saefullah bisa menjadikannya sebagai ladang bisnis. Setiap bulan puluhan juta dihasilkan dari menjual koleksi motor kunonya.

SISWA SMK CIPTAKAN MESIN PERAJANG SAMPAH DAUN ORGANIK



Prihatin kondisi sampah daun, Siswa SMK di Gresik Jawa Timur, berhasil membuat mesin perajang sampah daun, yang kualitasnya tidak kalah dibandingkan dengan produk hasil pabrikan. Selain ramah lingkungan, teknologi tepat guna, karya Siswa tersebut, mampu menghancurkan sampah daun, se-ukuran dua mili meter, efektif untuk pembuatan produk pupuk kompos, sehingga mampu memberikan nilai ekonomis bagi warga (16/11/2011.)

Mesin perajang sampah daun organik ini, digerakkan dengan motor berkekuatan hp 3500 RPM, menggunakan pisau stainles steel 1500 RPM, rangka plat 50x50x50, body plat eyzer 1,5 mm, dengan total kapasitas produksi 200 kilogram, per jam.

Arga wicaksono, Siswa, mengatakan, pembuatan mesin ini berawal dari keprihatinanya, terhadap tumpukan sampah daun organik, yang tidak hanya mengotori lingkungan, juga tidak sedap dipandang mata. “Inspirasi ini juga muncul setelah melihat cara kerja mesin penggiling kelapa di pasar, sehingga tekniknya hampir sama”, ujar Arga.

Setelah melakukan penelitian selama hampir satu bulan, angga wicaksono, bersama teman sekolah, dan guru pembimbing, akhirnya berhasil membuat mesin perajang daun, yang memiliki kapasitas 200 kilogram, per jam dan diberi nama ghilas, dari kata gerinda dan mesin las.

Pihak sekolah mendukung dan memberikan kesempatan kepada Siswa yang kreatif, untuk meningkatkan kompetensi Siswa dalam membuat dan memahami kerja mesin. Target dari kegiatan Siswa ini, untuk menciptakan lulusan SMK yang terampil dan profesional, sehingga setelah tamat sekolah, mereka mampu menciptakan lapangan kerja, untuk dirinya sendiri dan warga di sekitar lingkungannya.

NYARIS PUNAH, BUAH JUWET TETAP DI CINTA



Memasuki musim penghujan, ratusan pohon buah juwet milik warga Desa Lopang Kecamatan Kembangbahu Kabupaten Lamongan Jawa Timur, panen raya. Bahkan, pemilik buah juwet ini langsung menjual hasil panen di area kebun. Mereka menggelar dagangannya langsung di bawah pohon (14/11/2011.)

Buah yang di sebut anggur jawa dan memiliki nama latin syzygiun cumini tersebut nyaris punah. Bahkan saat ini pun, tak ada campur tangan pemerintah untuk membudidayakan buah lokal tersebut. Padahal, buah juwet di kenal sebagai salah satu buah lokal yang kaya vitamin A dan C, serta memiliki kandungan air yang tinggi dan dipercaya dapat menurunkan kolesterol.

Satu pohon besar jika dipanen buahnya bisa menghasilkan uang antara 400.000 hingga satu juta rupiah, tergantung murah, yakni hanya 5000 rupiah per kilonya.

Kebun juwet di desa Lopang selalu ramai di hari Jumat dan Minggu. Warga lamongan kerap menjadikan kebun juwet sebagai tempat rekreasi yang murah meriah. Para pengunjung bisa bersantai sambil menikmati buah juwet di bawah pohonnya yang teduh. Bahkan anak-anak usai sekolah pun selalu menjadikan kebun ini sebagai tempat berkumpul usai pulang sekolah.

Setiap pengunjung di kebun juwet ini diperbolehkan mencicipi sebelum membeli. Bahkan, pembeli diperbolehkan memetik atau memanjat pohon untuk sekedar mencoba merasakan manisnya buah yang berwarna ungu ini.

Ibu Asrep, salah seorang pemilik buah juwet, mengaku, memasuki musim penghujan, satu pohon buah juwet dapat menghasilkan uang sebesar Lima Ratus Ribu hingga satu Juta Rupiah sekali penen. Namun, untuk musim penghujan, pohon juwet tidak berbuah. Satu kilogram buah juwet dijual dengan harga Lima Ribu Rupiah. “Ya lumayan bisa membantu keuangan rumah tangga “ujar Ibu Asrep

Belakangan banyak pemilik pohon juwet yang menebang pohonnya dengan alasan mengganngu tanaman pertanian. Jika pohon-pohon juwet terus ditebang, bisa jadi kebun juwet yang tergolong langka ini hanya akan tinggal cerita saja.

IDUL KURBAN, TUKANG JAGAL HEWAN KELILING MENUAI BERKAH



Perayaan Hari Raya Idhul Qurban, mendatangkan berkah bagi para tukang jagal hewan kurban keliling, yang tersebar di wilayah gresik, jawa timur. Selama pelaksanaan pemotongan hewan kurban, seorang penjagal, rata-rata meraup rejeki, hingga jutaan rupiah atau sebesar 250 Ribu Rupiah untuk jasa pemotongan satu ekor lembu (06/11/2011.)

Sejak pukul 05.30 pagi, Muntholib, sang penjagal hewan kurban, warga Desa Kedanyang Kecamatan Kebomas, pergi ke beberapa lokasi pemotongan hewan korban yang tersebar di sejumlah wilayah di Kabupaten Gresik.

Sejak 10 tahun terakhir, Muntholib dengan sukarela menyembelih hewan kurban tanpa memungut biaya sepeser pun, melainkan hanya membantu proses penyembelihan hewan, agar sesuai syariat islam hingga halal di konsumsi. Salah satu tekniknya adalah dengan berdoa dan membaca basmalah sebelum proses penyembelihann dilakukan.

Para penjagal hewan korban yang sekaligus tokoh agama tersebut tidak bekerja sendirian, melainkan bekerja sama dengan kelompok pemotong kulit dan daging hewan kurban yang di kenal dengan nama, pemboleng. “Tujuannya jelas, yakni agar agar hewan yang di sembelih bisa dikonsumsi secara halal, kata Mntholib.

Dengan peran yang berbeda-beda yakni khusus menyembelih, menguliti, dan spesialisasi memisahkan daging dan tulangnya, mereka rata-rata mampu menyembelih dan memotong daging sapi kurban hingga 7 ekor dalam setiap 4 jam.

Ridwan, salah saeorang pemboleng, mengaku, selama pelaksaaan idul kurban, dirinya dan dua orang temannya, mampu memotong sebanyak 15 ekor lembu dalam sehari. Profesinya selama hampir 15 tahun ini, hanya butuh waktu selama 35 menit, untuk menguliti satu ekor lembu, dengan tarif seharga 250 Ribu Rupiah per ekor.

Namun, penjalani profesi ini memang harus punya keterampilan sendiri dalam menjinakkan sapi terutama sapi banal. Karena tak jarang hewan kurban akan melukainya.
”Kendala utama adalah sapi nakal yang kakinya kadang menendang nendang hingga pernah mencederai kami”, ujar. Ridwan”

Selama pelaksanaan pemotongan hewan kurban, keberadaan para penjagal maupun pemboleng, sangat dibutuhkan warga, karena tidak semua orang mampu melakukannya. Bahkan, para penjagal ini, rela berkeliling untuk melakukan tugasnya.

SISWA SMP TEMUKAN ALAT PENGERING IKAN ANTI HUJAN



Meski memasuki musim penghujan, para nelayan tidak perlu khawatir kesulitan mengeringkan ikan. Pasalnya siswa SMP di Gresik Jawa Timur, berhasil menemukan alat pengering ikan yang tidak akan terpengaruh oleh cuaca dingin akibat hujan. Bahkan, alat tersebut tergolong ramah lingkungan karena tidak mengeluarkan asap pembakaran (03/11/2011.)

Alat pengering ikan karya siswa SMP Negeri 1 Kota Gresik ini di berinama Pipikiko, singkatan dari komponen alat yang di gunakan, yakni api, pipa, kipas dan kotak. Alat sederhana ini, menyabet terbaik satu medali emas dalam Lomba Penelitian Ilmiah Remaja (LPIR) tahun 2011 di kota Solo untuk kategori penelitian teknologi.

Ketiga siswa yang menemukan alat pengering ikan ini adalah Muhammad Akbar, Achmad Lukman Hakim dan Rizki Taufan Rizal.

Cara kerja alat ini mirip alat oven dengan mengandalkan panas briket batu bara yang di filter melalui pipa, sehingga tidak mengeluarkan asap. Karena itulah, para siswa menjamin, alat pengering ikan buatannya, tidak akan mencemari lingkungan.

Energi panas yang di hasilkan dari pembakaran batu bara mencapai antara 33 hingga 50 derajat celcius yang kemudian di salurkan ke dalam kotak berisi ikan. Kotak ini terbuat dari rangkaian kayu dan seng yang dan tertutup rapat hingga ikan tidak akan basah meski proses pengeringan ikan di lakukan saat hujan turun.

Dengan panas mencapai 50 derajat cecius, waktu yang di perlukan untuk mengeringkan ikan, bisa lebih cepat dari pada menggunakan sinar matahari, karena suhu udara ketika terik matahari hanya berkisar antara 27 sampai 30 derajat celcius saja.

Untuk sementara, dengan luas kotak 25 meter persegi, ikan yang bisa di keringkan mencapai 2 kilo gram ikan.

Menurut para siswa, ide awal menemukan awal ini bermula saat teman-temannya yang sebagian orang tuanya bekerja sebagai nelayan, mengeluhkan sulitnya mengeringkan ikan di musim penghujan. Saat itulah muncul ide membuat alat sederhana ini. “Mulanya kita prihatin dengan kondisi nelayan yang kesulitan mengeringkan ikan saat hujan terus mengguyur selama musim penghujan”, ujar M. Akbar, salah seorang siswa pembuat alat pengering ikan.

Sementara itu, pihak sekolah tengah mempelajari kemungkinan memproduksi alat pengering ikan ini secara masal, jika para nelayan membutuhkannya. “Kami berencana mengajukan hak paten atas karya siswa ini termasuk juga merencanakan memproduksi masal setelah berkonsultasi dengan Dispendik Gresik”, kata Sutrisno, Kepala Sekolah SMPN 1 Gresik.

GELAS PINTAR KHUSUS ORANG BUTA KARYA SISWA SD



Meski masih usia belia, banyak di antara siswa sekolah dasar mampu menciptakan berbagai kreatifitas yang bisa dibanggakan. Salah satunya adalah gelas khusus penderita tunanetra karya Siswa Sekolah Dasar Muhammadiyah Di Gresik Jawa Timur (25/10/2011.)

Namanya gelas braille. Ya, gelas pintar karya Muhammad Ghulam Farras Dan Nadya Almas, Siswa Sekolah Dasar Muhammadiyah Gresik Kota Baru Kecamatan Manyar, menjadi finalis pada National Young Inovator Award ke-4 yang diadakan LIPI tahun ini. Gelas braille sengaja di ciptakan khusus membantu penderita tunanetra saat menuangkan air ke dalam gelas agar tidak tumpah. Jika air hampir penuh, maka gelas akan berbunyi.

Uniknya, gelas braille dibuat dengan komponen sangat sederhana, yakni speaker boneka yang dibuka tutupnya, kemudian kutub positif dan negatifnya diidentifikasi dan disambungkan dengan kawat besi menggunakan kabel. Kawat besi punya lengkungan sehingga bisa disematkan di bibir gelas. Bagian bawah gelas disambungkan dengan bahan plastik sebagai tempat speaker boneka.

Dengan rangkaian sederhana ini, gelas akan berbunyi saat air menyentuh kabel yang telah di sematkan di bibir gelas.

Menurut Nadia, ide membuat gelas pintar ini berawal saat Nadia tergugah oleh sebuah buku tentang nasib orang buta yang sulit menuangkan air ke dalam gelas. Saat itu, muncul ide kreatifnya untuk memanfaatkan speaker boneka sebagai alat bantu. “Inspirasinya berawal dari baca buku tentang nasib orang buta yang kesulitan menuangkan air ke dalam gelas”, ujar Nadia Almas.

Dalam inovasinya, Nadia mendesain agar speaker dan kawat bisa dilepas secara praktis, sehingga penderita tunanetra tak perlu membawa gelas ke mana-mana, cukup membawa komponen speaker dan kawat pengaitnya saja. Bahkan lebih dari itu, Nadia juga berencana mendesain suara gelas dengan suara manusia termasuk menambahkan efek getar pada saat berbunyi.

Saat ini, inovasinya dalam tahap membuat gelas cantik dengan hiasan lucu sesuai karakter anak-anak. Tujuannya jelas, untuk mempermudah penderita tunanetra dalam beraktifitas.

BIOGAS KOTORAN MANUSIA PENGGANTI LPG



Kotoran manusia atau tinja, ternyata bisa menghasilkan energi gas, yang aman dari resiko ledakan, seperti ledakan gas LPG ukuran 3 kg yang saat marak terjadi. Selain menghemat pengeluaran, api yang dihasilkan juga tidak kalah dengan gas LPG.

Hanya dengan memanfaatkan kotoran manusia, warga Cokrodiningratan, Jetis Pasiraman, Yogyakarta, dapat menbuat biogas, sebagai pengganti gas LPG yang aman dari resiko ledakan.

Untuk menghasilkan biogas tersebut, warga membuat saluran pembuangan dari masing-masing MCK rumah mereka, yang disalurkan dalam sebuah sumur penampungan tinja atau digester dengan menggunakan pipa paralon.

Sebelum masuk ke sumur pembuangan, saluran pembuangan dari rumah warga, terlebih dahulu melewati sejumlah bak kontrol yang digunakan untuk membersihkan dan memisahkan kotoran lain selain tinja. Hanya dengan di diamkan selama 2 hari atau 2 kali 24 jam, digester tersebut sudah menghasilkan biogas yang siap disalurkan ke rumah warga, untuk digunakan sebagai pengganti gas LPG.

Biogas yang dibuat warga, merupakan biogas dari saluran pembuangan 33 rumah warga, yang ada di wilayah tersebut. Warga juga hanya membayar 5 Ribu Rupiah setiap bulannya, sebagai biaya perawatan pipa paralon maupun biaya pemeliharaan dari sumur dan saluran pembungan yang ada.

ANAK KAMBING BERKAKI 7 JADI TONTONAN WARGA



Di Gresik Jawa Timur, seekor anak kambing yang baru berusia 4 hari, memiliki keanehan fisik karena memiliki kaki tujuh. Empat kakinya berada normal pada tempatnya. Sedangkan tiga kaki tambahannya, menempel di tubuh sebelah kanan semua. Tak ayal, kambing itu pun jadi tontonan warga (04/10/2011.)

Kandang kambing yang berada di belakang rumah Aman Sunarto di desa mojopurogede kecamatan bungah tersebut hampir tak pernah sepi dari kerumunan warga yang ingin menyaksikan dari dekat kondisi anak kambing yang memiliki fisik aneh. Betapa tidak, anak kambing tersebut memiliki kaki 7 dengan 4 kaki normal dan 3 kaki tambahan yang menempel di sisi tubuh sebelah kanan semua.

Saat berjalan, anak kambing jenis kibas tersebut terlihat sempoyongan, meski dua kaki tambahannya bisa menginjak tanah. Bahkan terkadang berjalan sempoyongan karena tak kurang keseimbangan dalam membawa beban kai tambahannya.

Menurut Aman Sunarto, kambing jantan tersebut, lahir hari Jumat kemarin bersama saudara kembarnya. Namun, proses lahirnya berbeda dengan kambing pada umumnya, yang biasanya kepalanya yang keluar lebih awal. Namun, pada kambingnya tersebut, justru kakinya yang keluar lebih awal.

Meski semula sempat takut dengan kondisi anak kambingnya yang aneh tersebut, namun, Aman Sunarto akhirnya lega dan pasrah, meski kondisinya tidak sama dengan kambing lainnya. “Saya dan anak saya awalnya takut dengan jumlah kakinya yang banyak, tapi sekarang malah saya senang”, ujar Aman.

Aman Sunarto juga mengaku, malam hari sebelum kelahiran kambing anehnya tersebut, sempat bermimpi di beri bayi oleh seseorang tak di kenal.

Aman berniat akan terus merawat kambingnya hingga besar, dan bersedia menjualnya jika ada pembeli yang menawar dengan harga pantas.

ANEH, SAPI BERKAKI LIMA BERKUKU ENAM



Seekor sapi jantan di Gresik Jawa Timur, memiliki keanehan fisik, yakni berkaki lima. Bahkan, kaki tambahannya tersebut, memiliki kuku enam yang tak lazim di miliki sapi pada umumnya. Kondisi ini menarik perhatian warga, termasuk anak-anak (16/09/2011.)

Warga Desa Boboh, Kecamatan Menganti, kini memiliki tontotan baru berupa sapi aneh, yang dimiliki Sukawi, warga setempat. Sekilas memang tak ada yang berbeda pada sapi ini, tapi, jika di perhatikan, sapi ini memiliki kaki tambahan, di samping kakinya yang empat.

Kaki tambahan menggantung dari bagian kanan sapi hingga hampir menyentuh tanah. Kaki tambahan ini, sama persis dengan kakinya yang empat, namun, bedanya terdapat kuku enam pada kaki tambahannya ini. Padahal, pada umumnya, kuku sapi berjumlah empat.

Awal lahir, ada yang mau memberi ganti rugi sapinya yang berkaki lima ini dengan harga 1 Juta Rupiah. Tetapi Sukawi menolak. Bahkan, sekarang ada yang menawar 10 Juta Rupiah pun, Sukawi akan menolaknya dan lebih memilih merawatnya. “Biar saya rawat aja sampai benar-benar besar”, ujarnya.

Menurut Sukawi, sapi yang kini telah berusia satu tahun setengah ini butuh perlakuan khusus. Selain perlu rumput perlu makanan tambahan yakni air garam dan dedak bekatul.

Kini sapi aneh bernama si Tole ini menjadi tontonan warga sekitar, terutama anak-anak. Mereka menyukai si Tole karena tingkahnya yang lucu dan memiliki keanehan fisik.

Setiap hari, sejumlah warga sengaja meluangkan waktu bersama anak-anak dan keluarganya untuk mendatangi kandang Sukawi guna melihat secara langsung sapi aneh tersebut.

BELANJA BUKU MURAH DI KAMPUNG BUKU



Mengawali tahun ajaran baru, beban keuangan keluarga bertambah dengan adanya kebutuhan pembelian buku pelajaran. Nah, bagi yang ingin berhemat, ada baiknya mengunjungi kampung buku yang menjadi pusat belanja buku murah di Surabaya Jawa Timur.

Pada minggu pertama masuk sekolah, para guru umumnya mulai memberi tahu buku acuan apa yang akan digunakan selama setahun ke depan. Jika semua buku acuan itu dibeli dengan kondisi baru, tentu akan mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Apalagi harga kebutuhan pokok lainnya juga meningkat.

Untuk menyiasatinya, ada baiknya orang tua mengajak anaknya mengunjungi kampung buku di Jalan Semarang Surabaya atau sekitar jalan di depan Stasiun Kereta Api Pasar Turi. Di pusat jual-beli buku murah tersebut, tersedia buka bekas dan buku baru dengan harga yang dijamin lebih murah dibandingkan dengan harga di toko.

Di kampung ilmu ini, pengunjung bisa mencari buku mulai pelajaran sekolah dasar, hingga perguruan tinggi. Khusus buku baru, harganya lebih murah 25 persen, sementara untuk buku bekas harganya hanya 50 persen dibanding buku baru di toko.

Selain buku-buku pelajaran, kampung buku juga menjual berbagai jenis buku mulai agama, politik, pertanian, dan hukum, bahkan berbagai aneka majalah, tabloid bekas dan baru.

LOMBA KETANGKASAN ABANG BECAK



Becak, di nilai sering menjadi penyebab kesemrawutan di jalan raya. Untuk itu, kepolisian Gresik Jawa Timur menggelar lomba ketangkasan bagi tukang becak agar paham peraturan lalu lintas (04/06/2011.)

Alasan dipilihnya lomba ketangkasan becak ini, karena selama ini, becak menjadi salah transpotasi darat tradisional yang menjadi pangkal kesemrawutan di jalan raya, dan sering di jumpai melanggar peraturan lalu lintas.

Ketangkasan abang becak ini meliputi kemampuan mengendalikan becak di tengah hambatan jalan raya, pemahaman berlalu lintas.

Disamping difokuskannya ke peratutra lalu lintas, lomba ketangkasan becak yang digelar polres gresik juga dimaksudkan agar tukang becak lebih peduli terhadap sesama pengguna jalan raya. Saat ada kecelakaan lalu lintas di jalan raya misalnya, tukang becak di arahkan menjadi orang pertama yang bisa menolong korban.

“Jadi, abang becak ini kita latih menjadi bagian dari penolong korban laka”, ujar Kasat Lantas Polres Gresik AKP Satria Permana.

Lomba ketangkasan becak yang diikuti 65 peserta di Gelora Tri Dharma Gresik tersebut, menjadi salah satu rangkaian acara dalam menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) Bhayangkara ke 65.

LUKISAN ALAMI PELEPAH PISANG KARYA SISWA SD



Melukis tidak harus menggunakan bahan cat, pensil pewarna atau kanvas. Pasalnya Siswa Sekolah Dasar Muhammadiyah 02 Perumahan Gresik Kota Baru (GKB) Kecamatan Manyar, Gresik, Jawa Timur, justeru memanfaatkan pelepah pisang, sebagai bahan utama lukisannya. Selain mengajarkan anak-anak lebih mencintai lingkungan, teknis melukis ini juga, mendorong kreatifitas siswa, dalam mengembangkan wawasan berfikir tentang pemanfaatan lingkungan di sekitarnya.

Uniknya lukisan karya siswa sd ini, kesemuanya bertemakan budaya kota santri Gresik, diantaranya lukisan masjid, kaligrafi, perkampungan tua khas Gresik, gunung kapur, hingga pelabuhan rakyat.

Proses melukis, diawali dengan pengeringan pelepah pisang, di bawah terik matahari. Agar pelepah pisang mudah dibentuk, terlebih dahulu pelepah pisang dihaluskan, dengan cara disetrika.

Setelah semua bahan baku siap, dilanjutkan dengan proses penempelan menggunakan lem, tentunya pelukis harus meyesuaikan tekstrur pelepah pisang, dengan obyek yang di lukis.

Melukis berbahan pelepah pisang, bagi sebagian siswa usia sekolah dasar, hampir dianggap mustahil. Apalagi, mereka selama ini hanya di ajarkan melukis dengan pensil pewarna atau kanvas. Namun, setelah dua tahun mengeluti lukisan berbahan pelepah pisang, kini mereka justeru merasa asyik dan makin menyukainya. “Ya, saya sangat senang bisa berkarya dengan memanfaatkan pelepah pisang”, ujar Farah Atifa ( salah seorang siswi)

Melukis pelepah pisang, tidak sekedar menggambar obyek lukisan biasa. Tetapi lebih dari itu, membutuhkan keterampilan menggunting dan juga membuat pola lukisan, yang akan dikerjakan agar hasilnya tampak lebih elegan dan bernilai seni.

Menurut pihak sekolah, teknik melukis pelepah pisang, mampu memberikan pemahaman kepada anak, agar mereka lebih mencintai lingkungan dan alam di sekitarnya.

Selain itu, teknis melukis pelepah pisang, juga dapat mendongkrak kreatifitas siswa, meningkatkan kemampuan merekam sebuah obyek, serta melatih konsentrasi para siswa.

Selain lukisan, para siswa ini juga membuat berbagai aneka kerajinan lainnya yang juga berbahan pelepah pisang, seperti miniatur rumah, boneka, tempat tissue dan lain sebagainya. Hasil kreatifitas para siswa ini pernah mendapatkan penghargaan dari berbagai instansi di kabupaten Gresik, sebagai karya anak-anak terbaik berbahan alami.(86)