Showing posts with label Anak-anak. Show all posts
Showing posts with label Anak-anak. Show all posts

MELATIH KEBERANIAN MENTAL ANAK LEWAT PERMAINAN AIR


Anak adalah aset bangsa yang tak ternilai harganya, masa depan bangsa di tentukan generasi yang berkualitas. Metode mendidik mental dengan berwisata petualangan, bisa menjadi salah satu alternatif melatih mental dan keberanian anak.

Nah! Sarana yang cocok untuk metode ini, bisa di temukan di Wahana Banyuwong Zona Adventure, di Jalan Singomerto kota Banjarnegara, Jawa Tengah. Dengan harga paket antara 100 Ribu Rupiah hingga 250 Ribu Rupiah untuk setiap anak, mereka bisa menikmati aneka permaian yang mampu menguji dan melatih keberanian mereka. Seperti arung jeram, flying fox, lomba tangkap ikan dan permainan menantang lainnya.

Permaian yang disediakan di sesuaikan dengan kemampuan anak. Untuk arung jeram misalnya, hanya menempuh jarak 500 meter saja. Sebelum bermain, perlengkapan keselamatan seperti pelampung dan helm harus di kenakan. Anak akan di bawa ke arus deras untuk menghilangkan pobia terhadap air. permainan ini juga di harapkan mampu mendidik anak agar bisa bekerja dengan tim, serta menghilangkan sifat egois. Karena dalam permainan ini, di tuntut kerja sama yang baik.

Setelah melewati derasnya arus, permainan selanjutnya adalah jembatan goyang, setiap anak di berjalan pada ketinggian 5 meter dengan melewati rintangan tali yang tergantung. Permainan ini di maksudkan untuk melatih ketangkasan, serta menghilangkan phobia anak terhadap ketinggian.

Selanjutnya permainan flying fox di lakukan dengan menyeberangi sungai sepanjang 200 meter. Dan yang terakhir, berlomba menangkap ikan. Puluhan anak berkumpul dalam satu kolam untuk menangkap ikan yang telah di sediakan. Ikan-ikan hasil tangkapan pun bisa di bawa pulang.

Bagi Anda para orang tua yang ingin anaknya memiliki kecerdasan mental ataupun fisik, tak ada salahnya mencoba metode ini.

SAMPAIKAN PESAN PERDAMAIAN MELALUI LUKISAN



Suarakan aspirasi tidak harus melewati demonstrasi atau ujuk rasa di jalan. di gresik jawa timur, kelompok lukis anak-anak, menyuarakan aspirasi perdamaian melalui lukisan. Bahkan, karya lukis mereka akan di kirim ke Sekjen Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) (01/04/2011.)

Berita tentang perang yang marak di pemberitaan akhir-akhir ini mengusik ketenangan mereka untuk menuangkannya melalui lukisan. Meski usia anak-anak ini masih Balita, namun jiwa kepekaannya terhadap penderitaan akibat perang, bisa terlihat dalam goresan-goresan pensil yang sejalan dengan hati mereka.

Para pelukis cilik ini tidak hanya dari Gresik saja, tetapi juga Surabaya, Sidoarjo dan Bojonegoro. Bahkan, sebagian di antara pelukis ini pernah menjuarai lomba lukis tingkat internasional di london dan sejumlah negera lainnya.

Salah satunya adalah balita yang menderita penyakit autis bernama azka haidar rahman. Balita asal Surabaya ini, memiliki kelebihan dengan karya lukisan naïf ekspresif yang pernah masuk 1000 besar dalam lomba lukisan anak-anak di London.

Sejumlah lukisan hasil kreatifitas anak-anak rencananya akan dikirim ke sekjend PBB, Ban Ki Moon sebagai pesan perdamaian. anak-anak ini mengajak para pemimpin dunia, untuk mampu menyelesaikan persoalan dengan cara damai.”Kami ingin menyentuh hati para pemimpin dunia dengan budaya”, ujar Arik Wartono (Pembina pelukis cilik).

Dengan menggoreskan pensil berwarna di atas kertas, anak pasangan ini, ingin menggambarkan suasana hilangnya keceriaan anak-anak korban perang se-usianya di Libya dan beberpa Negara perang lainnya yang sudah tidak bisa lagi menikmati masa kanak-kanaknya dengan ceria.

BOCAH 5 TAHUN MENANG KOMPETISI LUKIS INTERNASIONAL DI INGGRIS



Kabar baik untuk bangsa Indonesia, kali di persembahkan oleh Thifalia Raudina Mahardya (5 Tahun), putri pertama pasangan Gigih Mahardika (32 tahun) dan Ibu Citra Anandya (30 tahun). Warga Jalan Prapen Indah Blok S No. 7 Surabaya. Melalui DAUN Sanggarlukisanak, Thifa berhasil menyisihkan sekitar 3.000 anak berasal dari seluruh dunia dalam kompetisi lukis yang diselenggarakan oleh LOOK & LEARN Gallery London, salah satu gallery terbesar di Eropa yang menaruh perhatian yang sangat besar pada perkembangan seni lukis anak dunia.

Melaui karyanya berjudul "THE EYE UNDER THE MICROSCOPE", lukisan berukuran A3 menggunakan media Cat Air dan Spidol di atas Kertas, berhasil menorehkan tinta emas sekaligus mengharumkan nama baik Indonesia di ajang bergengsi ini.
Thifa sangat menguasai teknik melukis dengan media Crayon, kemudian sejak 3 bulan terakhir mulai belajar teknik melukis dengan Cat air. Namun masih terbatas pada media Kertas, belum pernah melukis di Kanvas.

Gadis kecil imut-lucu yang sedang menuggu kelahiran adik tercintanya ini bercita-cita ingin menjadi dokter. Selama ini Thifa telah mengkoleksi sekitar 20 piala mewarnai dan menggambar tingkat lokal, dan kini membuktikan kepiawaiannya hingga meraih juara internasional melalui lukisannya.

Dengan First Prize Winner (medali emas), maka ini JUARA 1 dobel tiga bagi Thifa, setelah awal bulan ini meraih Juara Pertama dalam kompetisi menggambar tingkat Jawa Timur sekaligus Juara Pertama pula dalam lomba mewarnai tingkat lokal.

Pengumuman pemenang ini baru di sampaikan hari ini (23/03/2011) di website :
www.art.lookandlearn.com atau tepatnya bisa diperiksa pada link berikut:
http://art.lookandlearn.com/childrens-art/Z1102-00021279J/?img=0&search=WINNERS&cat=all&bool=and

MAINAN ANAK SERBA KAYU, GO INTERNATIONAL



Beragam produk mainan anak-anak selama ini sudah banyak ditawarkan para produsen mainan dunia. Namun belum tentu jenis mainan tersebut dapat mendidik anak menjadi cerdas. Untuk meningkatkan perkembangan anak khususnya pendidikan anak usia dini, seorang pengrajin asal sukabumi membuat mainan anak serba kayu. Bahkan pasar mainan yang diproduksinya mampu menembus pasar dunia dan beromzet Milyaran Rupiah.

Di rumahnya di Kampung Paledang, Desa Cimahi, Kecamatan Cicantanyaan, Kabupaten Sukabumi Jawa Barat, Dindin Samsudin (37) mengawali kariernya sebagai pengusaha mainan anak berbahan serba kayu.

Bermula dari ide untuk memanfaatkan limbah kayu pada tahun 1993, ia bersama istrinya Elis Lisnawati bekerja keras menciptakan berbagai kreasi mainan dengan memanfaatkan sisa-sisa kayu yang dibuang dari pabrik pengolahan kayu yang tersebar di Sukabumi.

Untuk membuat puzzle dan mainan kayu misalnya, Didin biasanya dibantu 110 karyawannya untuk membuat design terlebih dahulu sebelum kayu sisa olahan tersebut dibentuk. Biasanya bentuk mainan dibuat sesuai hasil ciptaan atau sesuai pesanan konsumen.

Desain gambar yang telah dibuat, selanjutnya diserahkan ke bagian bengkel untuk memilih jenis kayu dan bentuk kayu yang akan dipotong. Lalu kayu yang sudah dipilih dipotong dengan mesin-mesin pemotongan sesuai dengan gambar maupun ukuran.

Untuk memperoleh hasil maksimal, banyak sekali jenis mesin potong. Selain mesin yang canggih dibutuhkan kejelian dan kecermatan dalam memotong ukuran mainan, terutama bahan-bahan yang bentuknya kecil.

Setelah hasilnya dirasa cukup, biasanya kayu yang sudah dipotong diserahkan kebagian lain untuk dilakukan proses perwajahan dengan menggunakan mesin bubut. Setelah bentuknya terlihat maka bahan mainan kayu itu dihaluskan dengan cara diampelas atau menggunakan mesin gerinda.

Setelah halus maka bahan-bahan tersebut, diserahkan kebagian pengecatan. Di bagian ini biasanya harus dilaukan secara hati-hati, apalagi bahan cat yang digunakan bukanlah cat biasa, tetapi jenis cat non toksit. Jenis cat tersebut digunakan sesuai dengan standar international agar anak-anak tidak mengalami keracunan yang disebabkan warna mainan.

Setelah cat kering, maka mainan atau puzzle diserahkan untuk dilakukan pengkemasan atau fucking. Untuk memanfaatkan limbah kayu biasanya mainan yang sudah dikemas dalam plastik di rebus kedalam panci atau dihangatkan dalam tungku. Fungsinya agar plastik menjadi merekat dan utuh, untuk dipasarkan kepada konsumen.

Biasanya, produksi mainan kayu buatan dindin ini dipasarkan ke berbagai negara didunia. Bahkan produksi puzzle dan jenis mainan lainnya yang diproduksi setelah memperoleh linsensi dari organisasi dunia bidang advokasi untuk anak-anak, Unicef (United Nations Children's Fund). Sedangkan untuk pasar lokal produksinya digunakan oleh Departemen Pendidikan Republik Indonesia khususnya bidang pendidikan usia dini.

Menurut Didin, omzet buah tangannya saat ini sudah beromzet Milayaran Rupiah. Bahan selain mampu menghidupi keluarga dan karyawannya, produsi mampu menyerap tenaga kerja berupa sentra-sentra kerajinan untuk 40 kepala keluarga yang ada di sekitar rumah produksinya.

Ia mengaku cukup kewalahan dengan pesanan dan permintaan pasar khususnya lokal, sementara jumlah produksi masih terbatas untuk ekport. Kendala permodalan dan kurangnya mesin masih disebut-sebut Didin menjadi kendala utama untuk memenuhi permintaan pasar tersebut.(86)