Showing posts with label Siswa. Show all posts
Showing posts with label Siswa. Show all posts

PERMEN LIDAH BUAYA, OBAT DIABETES DAN HIPERTENSI



Lidah Buaya (aloe vera) termasuk jenis tanaman yang mudah di berkembangbiakkan termasuk di budidaya di lahan-lahan kritis. Karena itu, siswa SMP Semen Gresik di Jalan Awikoen kota Gresik Jawa Timur, sukses mengembangkan budidaya tanaman Lidah Buaya di kebun milik sekolah.

Daun Lidah Buaya yang sudah berumur 4 bulan misalnya, di panen untuk di jadikan sebagai bahan utam aneka camilan seperti permen, sirup dan cendol.

Untuk mengolahnya, mula-mula kulit daun Lidah Buaya di kupas, hingga terlihat bagian dasarnya yang berwarna putih bening. Setelah di cuci bersih, daun Lidah Buaya siap di olah menjadi aneka makanan.

Untuk mengolah menjadi permen, daun Lidah Buaya di haluskan terlebih dahulu, untuk selanjutnya di rebus sekitar 10 hingga 15 menit. Selanjutnya, Lidah Buaya di tambahkan agar-agar untuk mempermudah mencetak jadi permen. Setelah benar-benar matang, adonan Lidah Buaya di cetak sesuai bentuk yang di inginkan. Setelah di jemur di terik matahari, permen Lidah Buaya pun siap di sajikan.

Menurut para siswa, ide membuat permen Lidah Buaya, berawal dari penelitian dan uji coba pengolahan Lidah Buaya yang selama ini kurang di manfaatkan secara maksimal. Apalagi, tekstur daun Lidah Buaya, cukup lentur untuk di olah menjadi aneka makanan. “Uji coba kita butuh waktu setidaknya satu bulan, hingga bisa menjadi seperti ini”, ujar Palupi Adilia Pratiwi, salah seorang siswa.

Di samping terasa nikmat, para penikmat permen Lidah Buaya percaya, jika camilan buatan siswa ini mampu mengobati berbagai macam penyakit, termasuk diabetes dan hipertensi, karena mengandung berbagai nutrisi serta anti virus yang banyak di butuhkan tubuh.

Menurut rencana, aneka camilan, sirup dan cendol tersebut akan di patenkan dan di produksi lebih banyak lagi untuk memenuhi permintaan pasar yang terus meningkat.

MANFAATKAN LIBUR SEKOLAH, SISWA BERLATIH CABUT DURI BANDENG



Memanfaatkan libur sekolah, sejumlah siswa di Gresik Jawa Timur, tekun berlatih mencabut duri bandeng, di sentra penghasil Bandeng Tanpa Duri, atau Batadu. Selain mendidik anak-anak menjadi lebih terampil, kegiatan siswa ini, diharapkan menjadi bekal berwiraswasta kepada mereka kelak setelah dewasa (03/01/2012.)

Cabut duri bandeng, menjadi hiburan tersendiri, saat memasuki libur panjang sekolah, bagi sejumlah anak-anak di desa leran, kecamatan manyar, kabupaten gresik, yang terkenal sebagai sentra penghasil bandeng tanpa duri, di gresik.

Pelatihan cabut duri bandeng ini, tidak mereka lakukan sehari penuh, melainkan hanya sekitar tiga sampai empat jam, per hari, atau memanfaatkan waktu luang, di sela-sela libur tahun baru. Aktivitas pelatihan ini, dijalani dengan penuh suka cita, bahkan juga diwarnai canda-ria, khas anak-anak.

Berbekal pisau tajam, dan sebuah pinset, atau alat yang biasa mereka gunakan untuk mencabut jenggot, para siswa ini, mencabuti satu - persatu duri-duri bandeng, yang terletak di bagian punggung, tengah, dan perut.

Nuril Irfan, salah seorang siswa SMP, mengatakan, butuh ketelatenan, dan kesabaran, karena durinya kecil-kecil, dan jumlahnya cukup banyak. Menurutnya, kegiatan ini cukup bermanfaat bagi anak-anak, terutama saat masa libur panjang sekolah, dari pada, menghabiskan waktu libur sekolah, hanya dengan bermain.

Pihak perajin usaha bandeng tanpa duri, sengaja memberikan kesempatan kepada anak-anak, yang pingin belajar, agar mereka memiliki bekal keterampilan berwiraswasta, kelak setelah dewasa.

Sekarang ini, sangat sulit mencari tenaga pencabut duri yang bisa diandalkan. Padahal permintaan pasar terhadap bandeng tanpa duri cukup tinggi, sehingga potensial menciptakan lapangan kerja baru.

Bandeng tanpa duri, produk sentra batadu di desa leran, kecamatan manyar, dijual dengan harga bervariatif, mulai dari 40 Ribu Rupiah, hingga 60 Ribu Rupiah, perkilogram, karena bergantung ukuran bandengnya.

SISWA CIPTAKAN ALAT DETEKSI BANJIR VIA SMS



Seringnya musibah banjir yang kerap melanda wilayah gresik memicu dua siswa Sekolah Menengah Kejuruan 01 Muhammadiyah, di Kecamatan Bungah, Gresik – Jawa Timur, untuk membuat alat digital pendeteksi datangnya banjir (19/12/2011). Keduanya yakni, Mohammad Faizal Zulmi dan Halwi Yudiapratama. Mereka adalah siswa kelas satu, jurusan teknik elektro industri.

Prinsip kerja alat ini adalah menghubungkan beberapa elemen elektronik, dengan media komonikasi berupa handphone. Diantara komponen yang di butuhkan yakni, micro control, selang pipa, kabel, modem, lampu, speaker alarm, serta beberapa alat pendukung lainnya.

Proses pembuatan alat ini memakan waktu hingga tiga bulan. Lamanya pembuatan alat ini, dikarenakan harus memasang alat micro yang disimpan didalam pipa kecil, sebagai tiang kontrol ketinggian air. Didalam pipa, terdapat empat buah alat micro control untuk menunjukkan tanda siaga satu, hingga siaga empat.

Alat tersebut kemudian dimasukkan kedalam pipa plastik.sementara diluar pipa, di tambahkan gabus yang didalamnya terdapat elemen magnet, untuk mempengaruhi mikro kontrol yang ada didalam pipa. Gabus yang melingkar diluar pipa, akan naik turun mengikuti ketinggian air.

Saat gabus naik, maka magnet didalam gabus akan mempengarui, micro kontrol dan selanjutya lampu indikator akan menyala, yang juga di ikuti oleh terkirimnya informasi tingkatan siaga melalui modem. Informasi tersebut akan terkirim ke sejumlah nomor hp yang sudah di program.

Untuk siaga empat, ketiga lampu indikator baik yang warna hijau, kuning maupun merah, akan padam, tetapi akan menghasilkan bunyi alarm yang keras sebagai tanda bahaya. Informasi melalui pesan singkat, akan sampai ke nomor tujuan secepat mungkin. “Nomor HP yang di kirimi pesan adalah tokoh masyarakat pengambil kebijakan seperti Bupati, Camat, Lurah, Dandim Dan Kapolres”, ujar Mohammad Faizal Zulmi, pembuat alat detektor banjir via SMS.

Rangkaian alat sederhana seharga kurang lebih 500 ribu rupiah ini tidak bisa langsung di letakkan di bibir sungai agar tidak rusak, melainkan diletakkan beberpa meter sekitar bibir sungai, dengan menggunakan pipa sebagai media penghubung.

Kedua siswa ini berharap, dengan alat pendeteksi dini banjir ini dapat memberikan manfaat bagi masyarakat, terutama yang tinggal dikawasan rawan bencana, seperti sekitar sungai Bengawan Solo.

BAK SAMPAH DARI LIMBAH TUTUP BOTOL KARYA SISWA



Sampah tak selamanya menjadi sumber penyakit dan berbagai persoalan lainnya. Di Gresik Jawa Timur, sejumlah siswa berhasil menciptakan bak sampah dari limbah tutup botol air mineral. Di samping unik dan ramah lingkungan, pembuatan bak sampah tersebut, tak memerlukan biaya sama sekali.

Puluhan peserta lomba mendaur ulang sampah, tampak serius mengikuti ajang daur ulang sampah yang di gelar panitia Pameran Buku Islam (Islamic Book Fair 2011) di halaman Gedung Nasional Indonesia (GNI) kota Gresik (10/12/2011.) Peserta yang rata-rata siswa sekolah menengah atas tersebut, menunjukkan kebolehannya dalam mendaur ulang berbagai jenis sampah yang ada di sekitar lingkungannya.

Berbagai karya pun muncul dalam ajang yang baru pertama kali di selenggarakan di kota gresik ini. Di antaranya, sandal dari limbah koran, lukisan kota mati dari limbah tissue serta berbagai kreatifitas lainnya.

Saah satu yang menarik perhatian pengunjung adalah bak sampah yang terbuat dari tutup botol air mineral karya siswa SMA Negeri Driyorejo, Gresik. Tutup air mineral yang bagi kebanyakan orang, di anggap sebagai barang tak berguna, justru berhasil di manfaatkan untuk membuat bak sampah dengan cara merangkainya dengan kawat hingga terbentuk rangkaian memanjang yang mudah di tekuk.

Untuk sebuah bak sampah, setidaknya di perlukan 220 tutup botol yang dirangkai menjadi dua bagian, yakni bagian bak dan bagian dasarnya. Uniknya lagi, tutup bak sampah ini, terbuat dari rangkaian sendok plastik berbentuk lingkaran.

Menurut Novan Noviansyah, salah seorang siswa pembuat bak sampah, ide awal menciptakan bak sampah dari tutup botol ini bermula saat mereka melihat banyak sampah tutup botol yang terbuang percuma, karena tidak pernah di manfaatkan. “Selama ini, fokus daur ulang hanya pada botol air mineral saja, sedangkan tutupnya selalu di buang”, ujar Novan.

Dengan bahan utama tutup botol, para siswa yakin, bak sampah karyanya, akan bisa di manfaatkan dalam kurun waktu hingga 5 tahun. Di samping itu, pembuatan bak sampah ini, tidak memerlukan biaya sama sekali karena semua bahannya terbuat dari limbah yang bisa di dapat di tempat pembuangan akhir.

Bak sampah dari tutup botol air mineral ini, selanjutnya bersaing dengan 15 karya siswa lainnya yang menjadi peserta lomba daur ulang sampah, untuk di nilai sebagai pemenang.

Sementara itu, Panitia lomba sengaja menggelar kegiatan ini untuk menjaring aspirasi dan ide kreatif remaja dalam mengolah sampah. Apalagi, Gresik sebagai kota industri memiliki limbah sampah yang cukup tinggi sehingga perlu kreatifitas tersendiri dalam penanganannya.

“Kita ingin menggugah kesadaran masyarakat terutama kalangan generasi muda untuk peduli dengan lingkungan terutama pemanfaatan sampah hingga bisa menjadi uang”, kata Hendra Ikhawan, salah seorang panitia.

SISWA SMK CIPTAKAN MESIN PERAJANG SAMPAH DAUN ORGANIK



Prihatin kondisi sampah daun, Siswa SMK di Gresik Jawa Timur, berhasil membuat mesin perajang sampah daun, yang kualitasnya tidak kalah dibandingkan dengan produk hasil pabrikan. Selain ramah lingkungan, teknologi tepat guna, karya Siswa tersebut, mampu menghancurkan sampah daun, se-ukuran dua mili meter, efektif untuk pembuatan produk pupuk kompos, sehingga mampu memberikan nilai ekonomis bagi warga (16/11/2011.)

Mesin perajang sampah daun organik ini, digerakkan dengan motor berkekuatan hp 3500 RPM, menggunakan pisau stainles steel 1500 RPM, rangka plat 50x50x50, body plat eyzer 1,5 mm, dengan total kapasitas produksi 200 kilogram, per jam.

Arga wicaksono, Siswa, mengatakan, pembuatan mesin ini berawal dari keprihatinanya, terhadap tumpukan sampah daun organik, yang tidak hanya mengotori lingkungan, juga tidak sedap dipandang mata. “Inspirasi ini juga muncul setelah melihat cara kerja mesin penggiling kelapa di pasar, sehingga tekniknya hampir sama”, ujar Arga.

Setelah melakukan penelitian selama hampir satu bulan, angga wicaksono, bersama teman sekolah, dan guru pembimbing, akhirnya berhasil membuat mesin perajang daun, yang memiliki kapasitas 200 kilogram, per jam dan diberi nama ghilas, dari kata gerinda dan mesin las.

Pihak sekolah mendukung dan memberikan kesempatan kepada Siswa yang kreatif, untuk meningkatkan kompetensi Siswa dalam membuat dan memahami kerja mesin. Target dari kegiatan Siswa ini, untuk menciptakan lulusan SMK yang terampil dan profesional, sehingga setelah tamat sekolah, mereka mampu menciptakan lapangan kerja, untuk dirinya sendiri dan warga di sekitar lingkungannya.

SISWA SMP TEMUKAN ALAT PENGERING IKAN ANTI HUJAN



Meski memasuki musim penghujan, para nelayan tidak perlu khawatir kesulitan mengeringkan ikan. Pasalnya siswa SMP di Gresik Jawa Timur, berhasil menemukan alat pengering ikan yang tidak akan terpengaruh oleh cuaca dingin akibat hujan. Bahkan, alat tersebut tergolong ramah lingkungan karena tidak mengeluarkan asap pembakaran (03/11/2011.)

Alat pengering ikan karya siswa SMP Negeri 1 Kota Gresik ini di berinama Pipikiko, singkatan dari komponen alat yang di gunakan, yakni api, pipa, kipas dan kotak. Alat sederhana ini, menyabet terbaik satu medali emas dalam Lomba Penelitian Ilmiah Remaja (LPIR) tahun 2011 di kota Solo untuk kategori penelitian teknologi.

Ketiga siswa yang menemukan alat pengering ikan ini adalah Muhammad Akbar, Achmad Lukman Hakim dan Rizki Taufan Rizal.

Cara kerja alat ini mirip alat oven dengan mengandalkan panas briket batu bara yang di filter melalui pipa, sehingga tidak mengeluarkan asap. Karena itulah, para siswa menjamin, alat pengering ikan buatannya, tidak akan mencemari lingkungan.

Energi panas yang di hasilkan dari pembakaran batu bara mencapai antara 33 hingga 50 derajat celcius yang kemudian di salurkan ke dalam kotak berisi ikan. Kotak ini terbuat dari rangkaian kayu dan seng yang dan tertutup rapat hingga ikan tidak akan basah meski proses pengeringan ikan di lakukan saat hujan turun.

Dengan panas mencapai 50 derajat cecius, waktu yang di perlukan untuk mengeringkan ikan, bisa lebih cepat dari pada menggunakan sinar matahari, karena suhu udara ketika terik matahari hanya berkisar antara 27 sampai 30 derajat celcius saja.

Untuk sementara, dengan luas kotak 25 meter persegi, ikan yang bisa di keringkan mencapai 2 kilo gram ikan.

Menurut para siswa, ide awal menemukan awal ini bermula saat teman-temannya yang sebagian orang tuanya bekerja sebagai nelayan, mengeluhkan sulitnya mengeringkan ikan di musim penghujan. Saat itulah muncul ide membuat alat sederhana ini. “Mulanya kita prihatin dengan kondisi nelayan yang kesulitan mengeringkan ikan saat hujan terus mengguyur selama musim penghujan”, ujar M. Akbar, salah seorang siswa pembuat alat pengering ikan.

Sementara itu, pihak sekolah tengah mempelajari kemungkinan memproduksi alat pengering ikan ini secara masal, jika para nelayan membutuhkannya. “Kami berencana mengajukan hak paten atas karya siswa ini termasuk juga merencanakan memproduksi masal setelah berkonsultasi dengan Dispendik Gresik”, kata Sutrisno, Kepala Sekolah SMPN 1 Gresik.

GELAS PINTAR KHUSUS ORANG BUTA KARYA SISWA SD



Meski masih usia belia, banyak di antara siswa sekolah dasar mampu menciptakan berbagai kreatifitas yang bisa dibanggakan. Salah satunya adalah gelas khusus penderita tunanetra karya Siswa Sekolah Dasar Muhammadiyah Di Gresik Jawa Timur (25/10/2011.)

Namanya gelas braille. Ya, gelas pintar karya Muhammad Ghulam Farras Dan Nadya Almas, Siswa Sekolah Dasar Muhammadiyah Gresik Kota Baru Kecamatan Manyar, menjadi finalis pada National Young Inovator Award ke-4 yang diadakan LIPI tahun ini. Gelas braille sengaja di ciptakan khusus membantu penderita tunanetra saat menuangkan air ke dalam gelas agar tidak tumpah. Jika air hampir penuh, maka gelas akan berbunyi.

Uniknya, gelas braille dibuat dengan komponen sangat sederhana, yakni speaker boneka yang dibuka tutupnya, kemudian kutub positif dan negatifnya diidentifikasi dan disambungkan dengan kawat besi menggunakan kabel. Kawat besi punya lengkungan sehingga bisa disematkan di bibir gelas. Bagian bawah gelas disambungkan dengan bahan plastik sebagai tempat speaker boneka.

Dengan rangkaian sederhana ini, gelas akan berbunyi saat air menyentuh kabel yang telah di sematkan di bibir gelas.

Menurut Nadia, ide membuat gelas pintar ini berawal saat Nadia tergugah oleh sebuah buku tentang nasib orang buta yang sulit menuangkan air ke dalam gelas. Saat itu, muncul ide kreatifnya untuk memanfaatkan speaker boneka sebagai alat bantu. “Inspirasinya berawal dari baca buku tentang nasib orang buta yang kesulitan menuangkan air ke dalam gelas”, ujar Nadia Almas.

Dalam inovasinya, Nadia mendesain agar speaker dan kawat bisa dilepas secara praktis, sehingga penderita tunanetra tak perlu membawa gelas ke mana-mana, cukup membawa komponen speaker dan kawat pengaitnya saja. Bahkan lebih dari itu, Nadia juga berencana mendesain suara gelas dengan suara manusia termasuk menambahkan efek getar pada saat berbunyi.

Saat ini, inovasinya dalam tahap membuat gelas cantik dengan hiasan lucu sesuai karakter anak-anak. Tujuannya jelas, untuk mempermudah penderita tunanetra dalam beraktifitas.

SOUVENIR CANTIK DARI LIMBAH KORAN




Limbah koran bagi kebanyakan orang, merupakan sampah yang kurang berguna. Namun tidak demikian bagi Siswa Sekolah Dasar di Gresik Jawa Timur, yang mengisi liburan dengan menyulap limbah koran menjadi aneka souvenir cantik (17/06/2011.)

Seperti yang dilakukan oleh Siswa Sekolah Dasar Nahdatul Ulama (SD NU), Kecamatan Kota Gresik yang membuat aneka souvenir cantik dari limbah koran. Souvenirnya berupa, minatur rumah, Becak, Sepeda Motor Harley Davidson, Gerobak hingga Jembatan Suramadu.

Meski tampak cantik, namun, cara membuatnya sebenarnya sangat mudah. Mula-mula, kertas koran di potong kecil lalu di gulung kecil. Gulungan koran kemudian di potong sesuai ukuran. Nah! Gulungan koran ini yang kemudian di bentuk menjadi berbagai aneka souvenir tadi.

Mengisi liburan dengan cari seperti ini, membuat para siswa senang. Pasalnya, di samping menghibur dan berkarya, juga menjadi ajang kreatifitas dalam mengolah limbah yang selama ini di anggap tidak berharga.

“Kita mencoba mengajarkan pemanfaatan limbah koran agar anak-anak peka terhadap kondisi lingkungan sekitarnya”, ujar Lutfi Efendi(Guru Pembina).

Souvenir karya siswa, selanjutnya di kumpulkan di showroom kelas, untuk selanjutnya di akan di tampilkan dalam berbagai pameran yang ada di Gresik.

SISWI SMA UNGGAH FOTO BUGIL KE FACEBOOK



Gara-gara mengunggah foto bugil teman ke facebook, sepasang muda-mudi di Lamongan Jawa Timur ditangkap Polisi. Salah satu pelaku mengaku cemburu pada korban sehingga mengunggah foto bugil temannya tersebut ke facebook (09/06/2011.)

Sepasang muda-mudi yakni, DYS siswi kelas satu salah satu Sekolah Menengah Atas Di Kecamatan Sekaran, Lamonngan dan ED, pacarnya yang sudah lulus sekolah dua tahun lalu, ditangkap polisi setelah menjadi tersangka dalam kasus foto bugil teman mereka berinisial NS yang mereka unggah ke facebook.

Kedua tersangka belakangan menjalin hubungan kasih, sementara korban yang foto bugilnya diunggah ke facebook merupakan mantan pacar ED. Karena mengetahui ED masih berhubungan asmara dengan korban NS yang kini diungsikan keluarganya ke luar kota, DYS lantas mengunggah foto NS ke akun facebooknya.

PerEDaran foto bugil ini sempat menghebohkan masyarakat di lamongan, khususnya kelangan pelajar. Foto bugil separuh badan tersebut berjumlah 11 adegan.

Menurut keterangkan kedua tersangka, foto bugil NS didapat ED dari korban. ED menerima foto tersebut langsung dari korban melalui MMS. Foto tersebut kemudian diambil DYS dan diunggah ke facebook.

Kasus ini terungkap setelah salah satu keluarga korban mengetahui beredarnya foto bugil NS. Keluarga korban lantas melaporkan DYS ke Mapolsek setempat.

Kini keduanya masih menjalani pemeriksaan intensif di Mapolsek Sekaran. Akibat beredarnya foto-foto bugil ini, kedua tersangka dijerat dengan Undang-Undang Nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, dengan ancaman hukuman minimal 6 tahun penjara.

VIDEO PORNO SISWI SMP DI SIANG BOLONG


Kasus video porno kembali menghebohkan kalangan pelajar dan masyarakat Subang, Jawa Barat. Sebuah video berdurasi dua menit empat detik beredar di masyarakat dan di duga di perankan seorang siswi kelas tiga salah satu SMP Negeri di kota Subang (08/06.)

Video dengan format 3gp dan menampilkan adegan hubungan suami istri tersebut, sengaja di rekam dengan menggunakan handphone milik pelaku, terlihat dalam tayangan video tersebut sepasang kekasih sedang melakukan adegan bercinta di sebuah kamar hotel di siang bolong. Diduga pelaku perempuan merupakan seorang siswi kelas tiga salah satu SMP di Subang.

Pemeran perempuan dalam adegan mesum tersebut berinisial RH yang di duga siswi Kelas Tiga sebuah SMP Negeri kota Subang. Sementara pemeran pria belum diketahui karena wajahnya tidak tampak kecuali benda terlarangnya saja. Sementara sang pemeran perempuan tanpil bugil tanpa sehelai benang pun.

Pihak sekolah membantah jika pemeran perempuan dalam video mesum tersebut merupakan siswinya. Bahkan, orang tua RH sudah di hadirkan ke sekolah dan meyakinkan pihak sekolah bahwa pemeran perempuan dalam adegan video mesum tersebut bukan anaknya, melainkan hanya mirip saja.

LUKISAN ALAMI PELEPAH PISANG KARYA SISWA SD



Melukis tidak harus menggunakan bahan cat, pensil pewarna atau kanvas. Pasalnya Siswa Sekolah Dasar Muhammadiyah 02 Perumahan Gresik Kota Baru (GKB) Kecamatan Manyar, Gresik, Jawa Timur, justeru memanfaatkan pelepah pisang, sebagai bahan utama lukisannya. Selain mengajarkan anak-anak lebih mencintai lingkungan, teknis melukis ini juga, mendorong kreatifitas siswa, dalam mengembangkan wawasan berfikir tentang pemanfaatan lingkungan di sekitarnya.

Uniknya lukisan karya siswa sd ini, kesemuanya bertemakan budaya kota santri Gresik, diantaranya lukisan masjid, kaligrafi, perkampungan tua khas Gresik, gunung kapur, hingga pelabuhan rakyat.

Proses melukis, diawali dengan pengeringan pelepah pisang, di bawah terik matahari. Agar pelepah pisang mudah dibentuk, terlebih dahulu pelepah pisang dihaluskan, dengan cara disetrika.

Setelah semua bahan baku siap, dilanjutkan dengan proses penempelan menggunakan lem, tentunya pelukis harus meyesuaikan tekstrur pelepah pisang, dengan obyek yang di lukis.

Melukis berbahan pelepah pisang, bagi sebagian siswa usia sekolah dasar, hampir dianggap mustahil. Apalagi, mereka selama ini hanya di ajarkan melukis dengan pensil pewarna atau kanvas. Namun, setelah dua tahun mengeluti lukisan berbahan pelepah pisang, kini mereka justeru merasa asyik dan makin menyukainya. “Ya, saya sangat senang bisa berkarya dengan memanfaatkan pelepah pisang”, ujar Farah Atifa ( salah seorang siswi)

Melukis pelepah pisang, tidak sekedar menggambar obyek lukisan biasa. Tetapi lebih dari itu, membutuhkan keterampilan menggunting dan juga membuat pola lukisan, yang akan dikerjakan agar hasilnya tampak lebih elegan dan bernilai seni.

Menurut pihak sekolah, teknik melukis pelepah pisang, mampu memberikan pemahaman kepada anak, agar mereka lebih mencintai lingkungan dan alam di sekitarnya.

Selain itu, teknis melukis pelepah pisang, juga dapat mendongkrak kreatifitas siswa, meningkatkan kemampuan merekam sebuah obyek, serta melatih konsentrasi para siswa.

Selain lukisan, para siswa ini juga membuat berbagai aneka kerajinan lainnya yang juga berbahan pelepah pisang, seperti miniatur rumah, boneka, tempat tissue dan lain sebagainya. Hasil kreatifitas para siswa ini pernah mendapatkan penghargaan dari berbagai instansi di kabupaten Gresik, sebagai karya anak-anak terbaik berbahan alami.(86)

MENDAUR ULANG KOTORAN KUDA MENJADI KERTAS



Tiga Siswa SMA Muhammdiyah 1 Kecamatan Babat, Lamongan, Jawa Timur, sukses mendaur ulang kotoran kuda menjadi kertas tulis (01/06/2011.) Ketiga siswa siswi ini adalah Dafina Balqis, Diah Ayu Vivit Nur Faidah dan Muhammad Teguh Kurniawan. Ketiganya merupakan pelajar Kelas XI jurusan Ilmu Pengetahuan Alam.

Untuk proses pembuatan kertas dari bahan kotoran kuda ini, tergolong rumit dan memerlukan kesabaran serta ketelatenan. Bahan dasar kotoran kuda yang telah kering, di oven selama 15 menit yang kemudian di lunakkan dengan bahan kimia. Setelah di cuci, kotoran kuda yang telah di campur bahan pelunak kemudian di diamkan selama kurang lebih satu hari.

Setelah itu, bahan yang telah lunak di campur pemutih serta perekat, kemudian di blender hingga halus dan benar-benar tercampur rata dengan bahan-bahan kimia.

Proses akhir, adalah mencetak adonan persis berbentuk kertas. Hanya menunggu kurang lebih empat jam, kertas kotoran kuda pun jadi tersulap sebagai kertas.

Para siswa ini memerlukan waktu tiga bulan dalam penelitiannya sebelum menjalankan praktek pembuatan kertas kotoran kuda. Namun, pembuatan kertas kotoran kuda ini masih belum sempurna karena keterbatasan peralatan.

Ketiga ilmuan cilik ini, menciptakan kertas dari kotoran kuda berawal dari ide melihat kotoran kuda yang banyak seratnya. Selain itu, daur ulang kotoran kuda merupakan salah satu bentuk penemuan yang ramah lingkungan. “Pilihan awal akan menggunakan enceng gondok atau kotoran kuda. Tapi akhirnya kita memilih kotoran kuda karena lebih banyak seratnya”, ujar Davina Bilqis.

Sementara, pihak sekolah berencana akan mengembangkan dan mematenkan hasil penemuan ini untuk kemaslahatan bersama terutama menyangkut kebersihan lingkungan.(86)

DRAMA KEPAHLAWANAN RELAWAN MERAPI, SISWA SD TERHARU



Peringatan Hari Pahlawan dilakukan dengan beragam cara. Di Gresik Jawa Timur, siswa Sekolah Dasar menggelar drama kolosal yang menggambarkan perjuangan para relawan Merapi dalam memberikan pertolongan terhadap para korban letusan gunung Merapi (09/11/2010.) Sejumlah siswa bahkan larut dalam keharuan saat melakoni adegan sebagai korban letusan Merapi.

Suasana haru dan histeris mewarnai pementasan drama kolosal kepahlawanan yang digelar ratusan siswa Sekolah Dasar Muhammadiyah II di jalan KH Kholil kota Gresik di halaman sekolahnya.

Drama kolosal ini, di gelar dalam rangka memperingati Hari Pahwalan dengan menggambarkan derita para korban Merapi dan perjuangan para relawan dalam memberikan memberikan pertolongan termasuk mengevakuasi korban Merapi agar terhindar dari abu vulkanik yang siap menerjang siapapun.


Sejumlah siswa, bahkan hanyut dan larut dalam keharuan seakan merasakan derita para korban Merapi. Mereka juga mengagumi, perjuangan keras para relawan, yang rela mengorbankan jiwanya, untuk membantu orang lain, meski jiwanya sendiri juga terancam. “Saya amat terharu, mereka kehilangan sanak saudara”, ujar Nanda Dwi Safitri, salah seorang siswi sambil tak kuasa menahan air matanya.

Peringatan hari Hahlawan ini, para siswa juga menggelar pembacaan puisi kepahlawanan serta renungan perjuangan para pahlawan dalam usahanya membebaskan indonesia dari belenggu penjajahan kolonial Belanda.

Menurut pihak sekolah, drama kolosal ini sengaja di gelar untuk menanamkan semangat kepahlawanan kepada para siswa serta agar memiliki kepedulian sosial, serta rela mendarmakan ilmunya untuk nusa bangsa dan negara.

Pahlawan di jaman modern sekarang ini, bukan lagi mengangkat senjata, tetapi juga mereka yang merelakan hidupnya untuk nusa dan bangsa, termasuk perjuangan para relawan Merapi, dalam membantu para korban.

Bagi para siswa, relawan tragedi letusan Merapi menjadi inspirasi tersendiri dalam mengamalkan amanat pancasila serta semangat kepahlawan di jalam modern ini.(86)

MANFAATKAN BARANG BEKAS, SISWA SD CIPTAKAN ALAT DETEKSI TSUNAMI



Gelombang tsunami, tidak hanya menimbulkan bencana saja, karena badai tsunami justeru menjadi ide cemerlang, bagi sejumlah siswa kreatif, dengan menciptakan alat deteksi tsunami, seperti yang yang dilakukan siswa-siswi Sekolah Dasar di Gresik, Jawa Timur. Dengan memanfaatkan limbah yang ada di sekitar lingkungan sekolahnya, pihak sekolah, berniat mengajarkan kepada anak didik, tentang proses terjadinya tsunami.

Alat deteksi tsunami karya siswa-siswi, Sekolah Dasar Muhammdiyah Gresik Kota Baru, Kecamatan Kebomas, Gresik, cukup murah dan sederhana, karena terbuat dari bahan bekas, yang ada di lingkungan sekitar sekolah, seperti bola pingpong, sedotan, sirine, bateri serta gabus.

Meski sederhana, alat deteksi produk siswa SD ini, cukup dirasa manfaatknya, karena alat tersebut, mampu menjelaskan proses alam tentang terjadinya gelombang tsunami, dan cara penanggulangannya.

Cara kerjanya cukup sederhana, jika terjadi pasang maupun surut secara ekstrem, maka sirine di alat deteksi akan bersuara, dan warga di sekitar pantai secepatnya pergi menyelamatkan diri.

Menurut para siswa, alat deteksi tsunami ini, di kerjakan selama 3 hari dan hanya membutuhkan dana sebesar sekitar 100 ribu rupiah, karena menggunakan bahan bekas, di lingkungan sekitar sekolah. “Biaya sangat murah karena sebagian alatnya terbuat dari limbah”, ujar Elvina Choirun Nisa, salah seorang siswi.

Melalui alat ini, warga di sekitar pantai secepatnya pergi menyelematkan diri, karena sirine alat deteksi akan bersuara, jika terjadi pasang maupun surut secara ekstrem, atau tiba-tiba.

Ichwan Arief, guru pembimbing, mengatakan, dengan media ini, pihak sekolah berniat mengajarkan terjadinya proses alam, tentang gelombang tsunami serta cara penanggulangannya.

Alat deteksi ini, dibuat siswa dengan guru pembimbing, setelah terilhami dari bencana tsunami di Aceh dan Mentawai, Sumatera Barat yang menelan banyak korban.

Usai memperagakan alat deteksi tsunami ciptaanya, siswa melakukan simulasi upaya penyelamatan, jika tsunami datang secara tiba-tiba, dengan cara menyelamatkan diri ke tempat yang lebih tinggi.(86)