Showing posts with label budidaya. Show all posts
Showing posts with label budidaya. Show all posts

BUDIDAYA LANDAK MINI AFRIKA, ANTARA HOBI DAN BISNIS



Bagi anda pecinta hewan peliharaan unik, mungkin hewan satu ini cocok untuk menambah koleksi. Namanya Landak mini Afrika. Seperti halnya Hamster, Landak mini tersebut juga lucu dan cukup jinak.

Adalah Iriyanto (53), warga Kelurahan Kutorejo, Kecamatan Kota, Tuban Jawa Timur, yang sukses memelihara hewan Landak mini Afrika, sebagai hobby dan sekaligus bisnis.

Landak mini ini bukanlah famili dari Landak yang biasa kita kenal. Dalam bahasa latinnya, Landak mini ini biasa di sebut Hedgehog dan berasal dari benua Afrika dan secara umum dikenal sebagi mamalia kecil dengan lapisan duri runcing menutupi punggungnya.

Saat ini Landak mini Afrika mulai di minati masyarakat, sebagai hewan peliharaan rumah. Sedangkan upaya penangkaran hewan lucu ini, masih jarang di jumpai di tanah air.

Menurut Iriyanto, budidaya Landak mini tidaklah sulit. Untuk kandangnya, cukup bekas aquarium yang di isi serbuk kayu. Serbuk kayu tersebut, harus di ganti setiap dua minggu sekali. Sementara untuk makan, cukup diberi ulat daun di campur dengan makanan kucing kemasan dan minum air bersih yang di tempatkan botol gantung.

Satu setengah tahun lalu, Iriyanto yang juga seorang Pegawai Negeri Sipil di Pemkab Tuban tersebut, hanya memiliki dua pasang Landak mini yang di belinya seharga Dua Juta Rupiah. Selama setahun, Landak kecil tersebut bisa beranak tiga kali dengan jumlah empat ekor hingga tujuh ekor bayi.

Kini Landak mini milik Iriyanto jumlahnya mencapai Lima Puluh ekor lebih. Bahkan hasil anakan Landak mini miliknya, sudah banyak di beli orang. Para pembeli tak hanya datang dari kota Tuban saja, melainkan luar kota seperti Bojonegoro dan Lamongan.

Sepasang Landak mini dewasa, di jual dengan harga antara Delapan Ratus Ribu hingga Lima Juta Rupiah, tergantung pada jenisnya. “Ini baru berjalan satu setengah tahun, bisa di bayangkan selanjutnya, ujar Iriyanto.

Walau berduri, hewan berukuran sebesar telapak tangan orang dewasa ini tidak berbahaya. Duri yang menghiasi punggungnya tumbuh sangat rapat dan bertekstur lunak, sehingga tidak akan melukai tangan.

BUDIDAYA AYAM CEMANI DI LAHAN SEMPIT



Jika memiliki lahan sempit di samping rumah yang belum di manfaatkan secara maksimal, tak ada salahnya mencoba mengembangbiakkan ayam cemani. Dengan perawatan yang relatif mudah, beternak ayam cemani bisa mendatangkan penghasilan yang cukup lumayan.

Ayam Cemani merupakan ayam lokal asli Jawa Tengah. Kata cemani diambil dari bahasa Jawa yang artinya hitam legam. Warna hitam legam ini menyelimuti seluruh tubuhnya mulai jengger, paruh, bola mata, lidah, rongga mulut, bulu, lubang dubur, kaki dan cakar. Jika semua tubuhnya berwarna hitam, maka harganya bisa mahal. Pasalnya, ayam cemani bagi sebagian orang dipercaya memiliki kekuatan supranatural yang mampu membawa hoki jika memilikinya.

Seperti lahan kosong rumah berukuran 1,5 Meter kali 4 Meter, milik Ponadi (44 tahun), warga desa Sengonagung, Kecamatan Purwosari, Pasuruan Jawa Timur yang berhasil mengembangbiakkan ayam cemani.

Sejak sembilan belas tahun lalu, Ponadi, memulai usaha yang bahkan kini telah menjadi sandaran hidup keluarganya. Berawal dari sepasang ayam cemani yang diperolehnya dari pulau Madura, kini ayam cemani yang berhasil dikembangbiakkannya mencapai ratusan ekor.

Memelihara ayam jenis ini tak ubahnya memelihara ayam kampung. Proses pengeraman telur hingga menetas dilakukan di kandang sempit samping rumah. Yang perlu di perhatikan adalah, kandang ayam sebaiknya tidak kena sinar matahari secara langsung. Di samping itu, sistem ventilasi udara dan kebersihan kandang, selalu diperhatikan agar ayam bisa tumbuh dengan sehat. Setelah menetas, anak ayam dipisahkan dari induknya dan ditempatkan di kandang terpisah. Biasanya, ayam cemani dikawinkan dengan sesama ayam cemani secara alami dengan perbandingan maksimal 1 jantan dengan 5 betina.

Untuk menghasilkan ayam cemani yang berkualitas, yakni yang berwarna hitam legam di seluruh tubuhnya, Ponadi punya kiat tersendiri, yakni diberi makanan serba hitam seperti ketan hitam dan cumi-cumi. Bahkan, Ponadi bersedia mengetes darah dan dubur ayam hasil ternaknya, agar pembeli yakin dan tidak tertipu.

Meski usia ayam baru dua bulan, permintaan ayam cemani cukup tinggi. Para peminat datang dari Jakarta, Bali, Semarang dan kota-kota lainnya yang datang untuk membeli. Harga satu pasang ayam ayam cemani di usia dua bulan mencapai 2,5 Juta Rupiah.

BUDIDAYA BURUNG JALAK SUREN, HOBI MENJANJIKAN



Jika ditekuni dengan benar, sebuah hobi akan mampu mendatangkan rejeki. Seperti yang di lakukan seorang penghobi burung Jalak Suren di Klaten, Jawa Tengah, hobinya tersebut mampu menjadi pekerjaan yang bisa mendapatkan hasil yang menjanjikan serta bisa menjadi tumpuan hidup keluarganya selama bertahun-tahun.

Burung Jalak Suren tergolong jenis burung langka serta memiliki suara kicau yang khas dan merdu. Selain bentuknya yang indah, gerak dan penampilannya pun menarik sehingga mampu memikat hati dengan suara dan kicaunya yang amat merdu. Karena itu, tak heran jika banyak warga yang ingin memiliki burung Jalak Suren tersebut.

Apalagi, Jalak Suren dilambangkan sebagai burung jinak penjaga rumah. Dengan memelihara burung ini, rumah akan selalu terjaga setiap hari karena Jalak Suren merupakan burung yang sangat peka. Jika ada orang datang, akan bersuara nyaring.

Budi Hartono, warga Dusun Canan Desa Jimbung, Kalikotes, Klaten, misalnya sudah 9 tahun menjalankan bisnisnya dengan beternak Jalak Suren. Bahkan, bisnis penangkaran burung jalak miliknya sudah menjadi tumpuan hidup keluarganya. Hasilnya pun cukup lumayan, setiap bulan tidak kurang dari seratus burung yang pandai mengoceh itu menetas dan harganya pun lumayan tinggi.

Menurut Budi Hartono, setiap anakan Jalak Suren umur 10 hari hingga baru belajar berkicau, dijual dengan harga 250 Ribu Rupiah, sedangkan yang sudah berumur sebulan sampai empat bulan mencapai 500 hingga 1 Juta Rupiah per ekor. Untuk burung Jalak Suren yang bisa berkicau panjang sambil jambul dan sayapnya mengepak merdu selama 30 menit bisa laku dijual hingga 5 Juta Rupiah.

Selain menjual burung yang pandai berkicau, Budi juga menjual burung indukan, yakni jalak betina yang sudah berumur satu tahun.

TERNAK LELE BERMEDIA TERPAL, LEBIH EFEKTIF



Mulai tahun ini, melalui Program Gerakan Membangun Ekonomi Rakyat Lamongan Berbasis Pedesaan (Gemerlap), pemerintah daerah memberikan bantuan pengembangan budidaya ikan lele dumbo. Jika umumnya budidaya ikan lele menggunakan media kolam dari bangunan bata dan semen, Dinas Perikanan dan Kelautan menawarkan inovasi dengan menggunakan media kolam dari terpal plastik.

Pemilihan media terpal ini dirasa efektif untuk masyarakat yang memiliki lahan sempit serta lebih menghemat biaya produksi. Di dua desa yang menjadi lokasi percontohan budidaya ikan lele, yakni Desa Kedungwangi dan Candisari Kecamatan Sambeng, program ini sudah menampakkan hasil.

“Keuntungan bersih dari bantuan pemerintah daerah untuk setiap kolam berukuran 2 x 4 meter ini memang belum begitu tinggi. Yakni sekitar Rp 250 ribu-300 ribu setiap kolamnya. Namun keuntungan ini setidaknya bisa digunakan sebagai peghasilan tambahan, “ ungkap Kabid Perikanan Budidaya pada Dinas Perikanan dan Kelautan Tri Wahyudi kemarin.

Harapan kami, lanjut dia, program ini bisa menjadi pengungkit perekonomian masyarakat penerima jika hasil keuntungannya itu dikembangkan untuk membuka kolam baru. Jika ada lima kolam baru yang dibuat warga secara swadaya dari hasil keuntungan bantuan tersebut, tentu keuntungannya bisa berlipat. “Ini sesuai dengan komitmen Bapak Bupati (Fadeli) agar perekonomian rakyat di desa bisa berkembang dengan potensi unggulan masing-masing desa, “ kata dia.

Selama tahun 2011, pemberian program bantuan ini dilakukan dalam dua gelombang. Gelombang pertama ada 56 paket bantuan yang diberikan. Yakni terdiri dari bantuan berupa pembuatan kolam terpal sebanyak 56 unit. Kemudian bantuan benih ikan lele sebanyak 84 ribu ekor, pakan ikan sebanyak 5 ribu kilogram, serta bantuan pompa air sejumlah 56 unit.

Sedangkan dalam gelombang kedua ada lebih bayak lagi bantuan yang diberikan, yakni sebanyak 80 paket bantuan. Gelombang dua bantuan ini terdiri dari bantuan pembuatan kolam terpal sebanyak 60 unit dan 20 unit kolam dari waring. Juga diberikan bantuan berupa benih ikan sebanyak 122 ribu ekor, pakan ikan sebanyak 11.220 kilogram, dan pompa air sebanyak 60 unit. (Humas Pemkab Lamongan)

SUKSES DENGAN BUDIDAYA JAMUR TIRAM DI DATARAN RENDAH



Siapa bilang budidaya jamur hanya bisa dilakukan di daerah dataran tinggi dengan suhu dan kelembaban udara tertentu saja? Seorang warga di kota Binjai, Sumatera Utara berhasil membudidayakan jamur di dataran rendah yang bersuhu tinggi dan kelembaban rendah pula.

Lokasi budidaya jamur tiram, milik Feri siregar di kota Binjai, sumatera utara, sudah berkembang sejak setahun lalu. Padahal, Binjai tergolong kawasan dataran rendah serta memiliki suhu panas normal antara 24 hingga 32 derajat celcius.

Proses budidaya jamur tiram milik Feri, tidak ada bedanya budidaya jamur tiram di tempat dataran tinggi. Budidaya jamur tiram ini juga menggunakan media tanam yang terdiri dari limbah gergajian kayu, dicampur dedak halus, kapur dolomit dan air.

Bedanya dengan budidaya di dataran rendah, air yang digunakan adalah air fermentasi hasil campuran mikro organisme dan gula. Hal ini untuk mengurangi munculnya jamur-jamur lain yang berpotensi tumbuh dalam media tanam.

Media tanam ini kemudian di diamkan selama tiga hari, kemudian dikukus selama 18 jam. Barulah media tanam ini dimasukkan ke dalam plastik dibentuk seperti polibag dan siap untuk diberi bibit jamur tiram.

Untuk menambah kelembaban ruang inkubasi, Feri menggenangi lantai tempat produksi dengan air hingga setinggi mata kaki. Dalam jangka waktu 15 hari di ruang produksi, jamur akan mulai terlihat keluar dari mulut-mulut polibag.

hingga saat ini, Feri baru memiliki lebih dari seribu polibag, dengan produksi 30 kilogram jamur tiram per harinya, yang di jual dengan harga 35 ribu rupiah, setiap kilogramnya .

Keterbasan dana, cukup menyulitkan Feri dalam mengembangkan usaha budidaya jamurnya, sehingga hanya mampu memenuhi kebutuhan untuk kota Binjai dan medan .

Jika anda tinggal di tempat dataran rendah dengan suhu tinggi dan kelembaban rendah, namun ingin berwira usaha, ada baiknya anda memperhitungkan bisnis jamur tiram ini.

MERAUP RUPIAH DARI BISNIS ULAR PHYTON



Memelihara phyton ternyata mudah dan mampu menghasilkan keuntungan puluhan Juta Rupiah per bulan. Hewan yang menakutkan seperti yang di pelihara di rumah Topan, seorang peternak ular desa getas pejaten, kecamatan jati, kabupaten kudus, jawa tengah itu, bahkan anak-anak dengan riangnya memegang bahkan menggendong ular, saat ular-ular tersebut dimandikan dan di jemur. Tak hanya ular-ular kecil, namun ular dengan ukuran raksasa, mereka pun berani memegang.

Seperti ular phyton albino yang ukurannya cukup besar. Panjangnya bahkan mencapai 5 meter. Untuk mengeluarkannya dari kandang, tak cukup orang dua untuk mengangkatnya atau ular boa berwarna coklat yang juga memiliki badan besar.

Walaupun termasuk binatang yang menakutkan, para pecinta ular piton kini semakin banyak. Selain tidak berbisa, reptile ini juga memiliki daya terik tersendiri di setiap warna dan motif sisik kulitnya.

Peluang usaha ini dimanfaatkan oleh topan, salah seorang peternak ular phyton di kudus jawa tengah. Ia membudidaya bermacam jenis dan ukuran ular piton. Seperti, phyton rectic, colobridae, boa, king dan berbagai macam lainya.

Menurut topan, memelihara dan merawat ular ternyata jauh lebih mudah dibandingkan dengan hewan piaraan kebanyakan. Kebersihan kandang akan tetap terjaga karena hewan melata ini tidak buang kotoran setiap hari.

Selain itu, ular ini cukup diberi makan, dimandikan dan di jemur, seminggu sekali sehingga tidak merepotkan pemiliknya. Makanan yang baik dikonsumsi adalah tikus putih. “Jadi sama seperti ular liar pada umumnya, makanannya tetap tikus”, ujar Topan.

Peminat ular piton ini bukan hanya dari masyarakat lokal saja, banyak juga pembeli yang datang dari berbagai daerah di indonesia. Selain untuk hewan peliharaan, phyton juga biasa di ikut sertakan dalam pertunjukan serta dilombakan dalam kontes reptile.

Harga untuk ular piton ini sendiri bervariasi menurut jenis dan ukuran, berkisar antara limaratus ribu rupiah untuk seekor bayi piton sampai enam juta rupiah untuk python dewasa. Dari ternak piton inilah topan mampu merauk keuntungan puluhan Juta Rupiah perbualannya.

MENDULANG REJEKI DENGAN BUDIDAYA BURUNG PERKUTUT



Membudidayakan burung perkutut merupakan hobi sekaligus bisa mendatangkan keuntungan besar. Selain mudah perawatannya, burung perkutut mempunyai istimewaan yakni mampu hidup lebih dari Lima Puluh Tahun, sama dengan umur manusia.

Dibanding budidaya unggas lainnya, membudidayakan perkutut mempunyai beberapa kelebihan. Dari sisi teknis pengelolaan, budidaya perkutut tidaklah rumit. Dengan teknik beternak yang jitu, modal yang dikeluarkan juga tidak terlalu besar. Dengan sangkar berukuran 1x 1x 2 meter persegi, para penggemar perkutut dapat membudidayakannya.

Salah satunya adalah Dalhari, warga Desa Paponan, Kecamatan Kledung, Kabupaten Temanggung Jawa tengah. Sejak dua puluh tahun ini, Dalhari membudidayakan burung perkutut di rumahnya. Disamping mudah perawatannya, burung perkutut juga tidak gampang stres dan terkena penyakit. Hanya yang menjadi perhatiannya sehari harinya adalah membersihkan kandang, memberi pakan dan minuman.

Untuk pakan burung, Dalhari hanya menyiapkan biji bijian, rumput dan padi padian yang merupakan makanan utama dari perkutut. Selain itu juga diberi pakan berupa beras merah, milet, butiran jagung serta vitamin untuk ketahanan tubuh.

Terdapat dua jenis perkutut yang kini dibudidayakan Dalhari, yakni jenis lokal dan Bangkok. Dua jenis tersebut nantinya akan disilangkan menjadi induk. Dalhari memilih dua jenis itu karena masing masing jenis mempunyai keistimewaan tersendiri. Dari jenis lokal mempunyai ketahanan tubuh yang kuat, sedangkan jenis bangkok mempunyai suara yang bagus. Dengan cara tersebut, perkutut mampu berkembang biak hingga tiga kali dalam kurun waktu dua bulan dengan bibit yang berkualitas bagus.

Setiap bulannya, Dalhari mampu menjual sekitar Tiga Puluh ekor. Untuk perkutut yang baru berumur lima belas hari, dirinya menjual dengan harga satu hingga satu setengah juta rupiah. Sedangkan burung perkutut yang tergolong berkualitas bagus dijual dengan harga puluhan hingga ratusan juta rupiah.

Kebanyakan para penggemar perkutut dari berbagai daerah di indonesia seperti, jakarta, semarang, jawa timur dan jogyakarta, datang langsung kerumah Dalhari untuk membelinya. Dalam sebulan dalhari mampu meraup keuntungan hingga Puluhan Juta Rupiah dari bisnisnya tersebut.

BUDIDAYA JAMUR DARI LIMBAH KAYU GERGAJI



Limbah kayu gergaji ternyata bisa digunakan sebagai media untuk membudidayakan jamur. Warga desa Wadungasih Buduran-Sidoarjo Jawa Timur, sukses menggunakan limbah kayu mebel yang telah di gergaji sebagai media budidaya jamur.

Dengan berbekal pengumpulan limbah kayu dari sejumlah perusahaan mebel kayu, warga desa mula-mula mengemasnya dalam bungkusan plastik yang kemudian disimpan di gudang rumah.

Serbuk kayu gergaji ini disiram air setiap hari hingga membusuk dan kemudian muncul jamur kayu. Jamur ini bisa diolah menjadi aneka ragam jenis makanan .

Meski dilakukan melalui proses yang cukup sederhana, namun hasil dari budidaya jamur ini, warga mendapatkan keuntungan yang cukup memuaskan .

Untuk satu lonjor jamur saja bisa dijual senilai 2.500 Rupiah. Padahal sekali panen, warga bisa menjual sekitar 1000 log dengan nilai 2,5 Juta Rupiah, yang diperoleh setiap 2 Bulan sekali.

Selain dijual dalam bentuk jamur, warga juga mengolah jamur menjadi aneka makanan siap saji, seperti bothok jamur, otak-otak jamur, cap jay jamur, tumis jamur, dan kripik jamur.

Sayangnya, karena permintaan jamur dilingkungan sidoarjo cukup tinggi, warga kampung jamur sidoarjo ini saat ini hanya bisa memenuhi permintaan jamur untuk lokal wilayah sidoarjo. Banyaknya permintaan jamur dari luar wilayah, belum bisa terpenuhi karena minimnya pengadaan bahan limbah gergaji.

BUDIDAYA BELUT SAWAH, USAHA TRADISIONAL YANG MENGUNTUNGKAN



Belut sawah yang banyak dijumpai di lubang pematang sawah ternyata bisa dibudidayakan, dan bernilai ekonomi cukup baik. Adalah Kusno (37 tahun) petani asal Desa Kapongan, Kecamatan Kapongan Situbondo Jawa Timur, sukses menggeluti budidaya belut sawah selama 15 tahun dari profesi semula sebagai petani.

Berbekal satu belut jantan dan betina yang ia dapatkan dari sawah, Kusno pun mengawinkan secara alami belut itu dengan belut betina. Tiga kali sehari, Kusno memberi makan belut dengan katak sawah. Dari perkawinan secara alami itu. Pada usia dua minggu belut mulai bertelur dan menetas menjadi ribuan ekor belut dan terus beranak pinak.

Sepekan sekali air kolam di ganti dengan air baru agar tetap bersih. Saat usia tiga bulan. Belut sudah mulai dapat di jual. Satu kilogram belut di Bali di jual seharga 22 Ribu Rupiah. Setiap empat hari, ia mampu mengirim hingga 1 ton belut ke Bali.

Kusno mengaku, awal hanya sekedar coba-coba untuk mengisi waktu luang usai menggarap sawah. Kebiasaannya mencari belut kemudian dikembangkan di sebuah kolam.

Banyaknya permintaan, membuat Kusno kualahan. Selain untuk menu makanan di sejumlah restoran, warga Bali menjadikan belut sebagai santapan lauk pauk harian yang cukup lezat, karena di yakini memiliki protein yang setara dengan daging sapi dan mempunyai kandungan energi paling tinggi daripada daging sapi dan telor ayam.

MANFAAT KESEHATAN DAN EKONOMI ROYAL JELLY MENGGIURKAN



Selain madu, lebah juga dikenal sebagai penghasil royal jelly. Zat yang digunakan sebagai pakan lebah ratu ini, memiliki khasiat luar biasa untuk kesuburan kandungan dan regenerasi sel tubuh. Karena khasiat tersebut, kini para petani Joyal Jellydi Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kudus Jawa Tengah, meraup untung lebih di musim panen.

Sebanyak 340 kotak sarang lebah ditempatkan di sekitar lokasi kebun. Pada bulan juli seperti sekarang, jenis bunga yang sedang berkembang untuk pakan lebah adalah bunga pohon randu.

Berbeda dengan madu yang diambil dari rumah lebah, Royal Jelly dipanen dari frame mangkuk di dalam kotak koloni lebah. Untuk mendorong lebah pekerja menghasilkan royal jelly. Setiap mangkuk di isi larva lebah yang baru berusia 2-3 hari. Joyal Jellydalam mangkuk ini juga menjadi pakan bagi lebah ratu.

Selang 2 minggu, frame mangkukan telah penuh dengan Royal Jelly yang siap dipanen. Namun, larva yang terdapat dalam mangkuk harus diambil terlebih dahulu sebelum panen dilakukan.

Kandungan di dalam royal jelly, ternyata memiliki khasiat luar biasa. Yang paling utama adalah hormon gonadotropin yang bermanfaat untuk menyuburkan kandungan. Hal ini ditunjukkan oleh sifat lebah ratu yang senantiasa melakukan reproduksi. Selain itu, kandungan enzim dan asam amino didalamnya bermanfaat untuk regenerasi sel tubuh sehingga menjadikan seseorang awet muda dan terhindar dari berbagai penyakit.

Melihat khasiatnya yang sangat penting, tak heran jika harga produk lebah yang satu ini cukup mahal. Untuk setiap 1 kilogram royal jelly, harga berkisar satu setengah juta rupiah.

Sedangkan untuk konsumsi, Royal Jelly biasanya digunakan sebagai campuran dalam madu dengan perbandingan tiap 650 ml madu ditambahkan 0,2 ons Royal Jelly.

Kini para petani royal jelly di kawasan pegunungan Kabupaten Kudus sedang meraup keuntungan lebih karena memasuki masa panen madu sekaligus Royal Jelly. Seiring dengan semakin cerahnya prospek, budidaya royaljelly juga semakin diandalkan menjadi mata pencaharian sehari hari masyarakat setempat. Apalagi, dalam satu tahun, peternak bisa panen hingga 10 kali.

BUDIDAYA BURUNG PERKUTUT CRASH LORENG


Bermula dari kesenangannya memelihara burung, Sukardi(62 tahun) warga Dusun Pereng, Desa Sendangsari, Kecamatan Pengasih, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Jogjakarta, mampu membudidayakan jenis burung perkutut yang disebutnya perkutut crash loreng. Semakin menarik panjang suara ketheknya atau merdu suara yang dihasilkan semakin mahal, harga seekor perkutut dapat mencapai harga Rp 800.000 hingga Rp 1 juta.

Di rumahnya yang sederhana Sukardi membudidaya burung perkutut crash loreng, persilangan antara perkutut bangkok dengan perkutut lokal. Hasil perkawinan ini yang kemudian terus dikembangkan oleh Sukardi.

Jika dilihat sepintas lalu, maka penampilan perkutut milik Sukardi tak beda jauh dengan perkutut yang dibudidaya oleh kebanyakan peternak burung. Namun jika di amati, maka bentuk tubuh yang sedang bersuara yang merdu menjadi perbedaan dengan perkutut lainnya.

Sukardi memulai usahanya sejak 13 tahun lalu dan telah menjual perkutut crash mencapai ratusan ekor. Perkutut yang baru saja berumur 3 minggu sudah bernilai 200 Ribu Rupiah lebih, apalagi jika mengeluarkan suara merdu dengan cengkoknya yang khas, harga perekornya mampu menembus angka 800 Ribu Rupiah hinggga 1 Juta Rupiah.

Sukardi memulai usaha budidaya perkutut crash loreng, bermula dari sekedar hobi memelihara burung, namun setelah lama memelihara hatinya jatuh untuk memelihara perkutut, disamping mudah perawatan, namun juga irit biaya,

Kutut crachnya sudah melalang buana ke beberapa pulau, seperti kalimantan, sumatera dan sulawesi selatan. Biasanya, para pembeli mengetahui jenis kutut crash dari mulut kemulut.

Saat ini, Sukardi masih memiliki stok burung perkutut crash sebanyak 200 – hingga 300 ekor, beberapa ekor sudah dipesan pembeli hingga mengeluarkan suara dengan cengkoknya yang khas, seperti , haur ketek-ketek kur , haur ketek-ketek kur .
Sukardi mengaku rata- rata per bulan mampu menjual burung perkutut jenis crash loreng 2 ekor hingga 4 ekor, baik masih anakan hingga yang sudah berbunyi merdu.

BUDIDAYA BUNGA ROSELLA KIAN MENJANJIKAN



Budidaya bunga Rosella, banyak dilirik petani di kawasan Pantai Selatan Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Jogjakarta. Selain biaya perawatan yang mudah, pasar bunga Rosella, cukup menjanjikan. Bahkan permintaan bunga Rosella, baik kering maupun basah, terus melonjak.

Adalah Dewi Puji Rahayu (31), salah satu petani bunga Rosella di Pantai Selatan, Desa Pleret, Kecamatan Panjatan yang sejak 2 tahun lalu, mulai mengembangkan budidaya bunga Rosella di atas lahan pasir seluas 2000 meter.

Menanam bunga Rosella menurutnya Rahayu, lebih menjanjikan dibanding budidaya tanaman sayur atau buah melon, ia mengaku budidaya tanaman Rosella sangat mudah dan harga jualnya pun tinggi. “usaha budidaya Rosella ini bermula dari penelitian teman, ternyata gagal. Kemudian kita kembangkan ternyata bagus hinga sekarang ini” ujarnya.

Untuk membudidaya bunga Rosela, hanya dibutuhkan lahan gembur, bibit, polybag dan pupuk kompos. Jarak panennya pun terbilang cepat yaitu 4 bulan dari sejak tanam. Perawatannya pun terbilang mudah, asal cukup air dan sinar matahari matahari, namun demikian perlu diingat bahwa air tidak boleh mengenang, agar akar Rosella tidak membusuk. Sebaiknya setelah ditanam, Rosella disiram sehari sekali setiap sore hari.

Dari 2000 meter lahan bunga Rosella milik Rahayu mampu manghasilkan satu sampai dua kwintal kelopak bunga Rosella kering setiap musim panen.

Harga kelopak bunga Rosella kering mencapai Rp50.000 hingga Rp 100.000 perkilogram, tergantung mutu dan kwalitasnya.

Bunga Rosella, biasanya digunakan sebagai bahan baku minuman kemasan bervitamin C tinggi, bahan baku obat atau menjadi sirup bunga Rosella.

Di pantai selatan kabupaten kulon progo, tidak kurang dari 400 petani, memilih budidaya bunga Rosella, sekaligus menjadi pemasok utama ke pabrik minuman kemasan fermentasi bunga Rosella.

BUDIDAYA LEBAH LANCENG YANG KAYA MANFAAT



Sampai saat ini, tak banyak yang tahu, lebah Lanceng atau Klanceng, memiliki manfaat besar dalam menjaga kesehatan sekaligus peluang usaha cukup menggiurkan. Sugeng, warga Desa Katongan, Kecamatan Nglipar, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta contohnya, berhasil membudidayakan lebah Lanceng.

Lebah Lanceng / Klanceng atau nama latinnya Apis Trigona, mempunyai ukuran lebih kecil dari lalat. Karenanya, ia memiliki koloni cukup banyak, untuk menghasilkan madu. Tentunya dengan waktu yang cukup panjang, bahkan hingga tiga bulan sekali untuk memanen. Itupun hanya didapat, tak lebih dari 125 mili liter madu Lanceng, pada setiap kotak koloni yang dihuni ribuan lebah Lanceng.

Untuk budidaya madu lebah Lanceng, perlu ketelatenan yang lebih, dibandingkan dengan lebah madu biasa, baik dalam pemindahan koloni lebah, perawatan hingga cara pemanenennya. Selain itu, populasi lebah Lanceng membutuhkan udara yang cukup lembab.

Dalam pengambilan madunya misalnya, hingga kini belum ada cara yang praktis serta higienis. Biasanya dengan cara memilih sisir yang berisi madu lalu dikeluarkan dengan cara memeras. Dengan demikian, sebagian larva ada yang mati dan madu masih tercampur sedikit malam maupun tepung sari sehingga terlihat kurang bersih.

Lebah lancing di budidaya dalam kotak-kotak yang dibuat dari potongan bambu yang dilubangi atau akar pohon yang besar dan berlubang. Semuanya dibuat sedemikian rupa sehingga mirip dengan lubang-lubang alamiah kayu, bambu di hutan yang disukai lebah Lanceng.

Dibandingkan dengan madu biasa, rasa madu Lanceng tidak selalu manis. Bahkan, madu Lanceng mempunyai aroma dan rasa asem, termasuk juga pahit. Aroma dan rasanya juga tergantung dari musim buah dimana lebah tersebut menghisap tepungsari yang terdapat pada bunga.

Manfaat dari madu laceng, selain bermanfaat untuk stamina tubuh dan mengandung dha untuk anak-anak, juga dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit. Diantaranya, demam pada anak, dan batuk pilek. Selain itu dapat juga sebagai terapi penyembuhan diare, demam berdarah, radang tenggorokan, liver bahkan luka bakar.

Harganya jauh lebih mahal di banding madu biasa. Namun demikian, madu hasil produksi lebah yang tidak bersengat itu tetap diburu para penggemarnya. Untuk satu botol berukuran seratus dua puluh mili liter misalnya, dihargai tiga puluh ribu rupiah. Harga ini lebih mahal dua sampai tiga kali lipat, dari madu lebah biasa, mengingat khasiat dan proses produksi yang lebih lama. Tak heran, dengan sekitar dua puluh kotak lebah Lanceng, penghasilan Sugeng dari penjualan madu Lanceng ini, mencapai Dua Juta Rupiah per-bulan.

BUDIDAYA LELE AFRIKA CUKUP MENGGIURKAN



Siapa bilang lele Afrika tak dapat berkembang baik di Indonesia. Buktinya, di Situbondo Jawa Timur. Seorang pembudidaya ikan lele lokal mencoba membudidayakan lele Afrika dan ternyata hasilnya cukup mengagumkan.

Adalah Firman Wahyudi (31 tahun,) warga Desa Seletreng, Kecamatan Kapongan Situbondo, yang kini tersenyum karena budidaya lele Afrika yang ia kembangkan sejak sepuluh bulan silam berbuah manis.

Semula firman ragu untuk membudidayakan lele Afrika yang induknya ia dapatkan dari membeli di bali lantaran geografis Indonesia yang kurang mendukung. Namun firman terus mencoba coba.

Induk lele betina dan jantan mulai kawin secara alami. Menginjak dua bulan. Mulailah lele beranak pinak hingga ribuan ekor. Lele kecil diberi nutrisi cair sebagai makanan. Setelah menginjak usia tiga bulan barulah lele diberi concentrate sebagai konsumsi makanannya. Saat usia lele mencapai empat bulan. Barulah siap untuk di pasarkan. Dan hasilnya cukup menggembirakan lele Afrika yang di kembangkan ternyata gemuk dan tumbuh baik.

Menurut firman, pembudidaya lele Afrika, membudidayakan lele Afrika cukup mudah. Yakni hanya memberi air dengan suhu agak panas dengan makanan sehari dua kali pagi dan sore.

Secara phisik tubuh lele Afrika sama dengan lele local. Namun warna lele Afrika lebih hitam kelam jika sudah menjadi indukan. Dan lele Afrika tidak menyengat seperti halnya lele lokal.

Firman mengaku. Selain di jual untuk konsumsi warga situbondo. Lele Afrikanya juga di jual ke bali. Satu kilogran lele Afrika. Firman dapat menjual dengan harga lima belas ribu rupiah. Dalam sebulan firman mampu menjual hingga tiga kwintal.
Lele Afrika menurut para pembeli rasanya lebih gurih dan lembek ketimbang lele lokal, sehingga sangat cocok untuk hidangan rumahan maupun restoran. Apalagi saat lele di baker, rasanya sangat lezat.

BUDIDAYA TANAMAN MURBEI UNTUK TEH KESEHATAN



Selama ini tanaman murbei hanya kita kenal sebagai pakan ulat sutera. Ternyata daun murbei juga bisa di racik menjadi minuman teh yang berkhasiat. Seperti yang dilakukan sekelompok ibu-ibu di Kelurahan Bongki Kecamatan Sinjai Utara, Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, yang membudidayakan tanaman murbei untuk minuman berkhasiat.

Ibu-ibu kreatif ini memanfaatkan tanah kosong yang ada dipekarangan rumahnya, untuk membudidayakan tanaman ini. Kendati jumlah tanamannya masih terbatas, namun setiap seminggu sekali maemunah sudah bisa memproduksi minuman murbei yang dipercaya, berkhasiat menyembuhkan hipertensi, diabetes serta sejumlah penyakit lainnya.

Untuk membuat minuman seperti teh, terlebih dahulu dipilih daun murbei yang berkualitas baik. Daun murbei yang terkumpul kemudian ditimbang untuk mendapatkan berat tertentu sesuai yang diinginkan. Setelah itu, daun kemudian dicacah dan di iris-iris kecil. Usai di iris-iris, potongan-potongan daun ini kemudian di goreng kering menggunakan wajan. Wajan yang digunakan pun harus terbuat dari tanah liat, agar aroma khas daun murbei tetap terasa saat dihidangkan.

Daun murbei yang sudah digoreng kemudian dihaluskan secara manual. Dan sama seperti membuat teh pada umumnya, sebelum disajikan daun murbei yang sudah dihaluskan terlebih dahulu ditapis. Dan daun murbei pun siap untuk disajikan.

Ibu-ibu ini mengaku, sejak membudidayakan tanaman murbei, sudah jarang membeli teh. Selain karena cara pembudidayaan tanamannya yang mudah, maemunah tertarik mengembangkan usaha tanaman murbei ini karena khasiatnya bagi kesehatan. Kedepannya maemunah bersama teman-temannya berencana, membuat usaha kecil yang bergerak disektor produksi minuman murbei.

BETERNAK LEBAH MADU DI POHON JATI



Musim bunga pada pohon jati ternyata menjadi berkah tersendiri bagi peternak lebah hutan di Situbondo Jawa Timur. Betapa tidak, produksi madu peternak meningkat tajam dibandingkan sebelumnya.

Adalah Rizal (25 tahun,) salah seorang peternak madu di desa Sumber Waru, Kecamatan Banyuputih Situbondo, yang kini mulai tersenyum dengan usaha peternakan lebahnya.

Seiring mulai mekarnya bunga pohon jati sejak tiga bulan lalu, produksi madunya mengalami peningkatan tajam.

Saat ini menurut rizal, dari 1500 kotak lebah yang ia tangkarkan di hutan Baluran Situbondo, mampu menghasilkan madu hingga tiga ton perbulan. Padahal sebelumnya ia hanya mampu mengambil madu separuhnya saja.

Satu kilo gram madu hutan jati, dia jual dengan harga 30 ribu rupiah. Selain memenuhi permintaan penjual jamu di situbondo, Rizal juga melayani pabrik jamu di kota Malang dan sekitarnya.

Madu lebah pohon jati konon, rasanya lebih manis sebab kandungan tepung sari pada bunga pohon jati lebih banyak ketimbang pada pohon lainnya.

Jika madu di gunakan untuk penyembuhan penyakit seperti masuk angin dan meningkatkan kebugaran tubuh sangat mujarab.

Rizal mengaku dibutuhkan ketrampilan khusus untuk beternak lebah madu jati. Sebab tak jarang. Lebah kerap menyengat saat awal penangkaran hingga madu hendak di panen.

Untuk itu peternak harus ahli dan membekali diri dengan masker penutup wajah berikut pemberian asap sabut kelapa. Untuk menangkarkan lebah madu bunga jati sebenarnya cukup mudah. Induk lebah yang telah dimasukkan dalam kotak dalam waktu tiga bulan, akan di kerumuni ribuan lebah anakan hingga menghasilkan sarang lebah dan produksi madu.

Jika telah cukup masanya, yakni minimal tiga bulan dan maksimal lima bulan. Madu pun sudah siap di panen dan siap dijual.

BUDIDAYA LOVE BIRD, SI CANTIK YANG SELALU MESRA



Love bird atau burung cinta, kini menjadi primadona bagi para kicau mania. Selain memiliki corak warna cerah yang beraneka ragam, burung cinta juga memiliki suara kicau yang merdu dan cerewet. Burung paruh bengkok yang berasal dari Madagaskar, Afrika tersebut, jika berpasangan, maka tingkah lakunya mirip manusia yang tengah dirundung asmara, karena selalu berduaan memadu kasih, tanpa mau meninggalkan kekasihnya. Karena itulah, dinamakan burung cinta.

Ada beragam jenis love bird, yang diburu kicau mania, diantaranya lutio mata merah, berwarna dasar kuning, kepala oranye dan berparuh merah. Kemudian love bird jenis blorok yang warna dasarnya mirio lutio mata merah, tetapi berbulu semu-semu hijau, kuning dan biru.

Kedua jenis love bird ini, paling populer dan banyak diburu kicau mania. Bahkan, harga jualnya juga relatif mahal. Untuk lutio mata merah, harga anaknya saja mencapai 3 Juta Rupiah. Sementara yang dewasa bisa laku hingga 6 Juta Rupiah perpasang. Love bird jenis blorok, harga jual anaknya mencapai 4 Juta Rupiah, tetapi setelah dewasa bisa laku terjual 7 Juta Rupiah per pasang.

Mahalnya harga jual jenis burung yang selalu berpasangan ini, disebabkan tingginya permintaan, tetapi sangat sedikit yang berhasil membudidayakannya.


Untuk membuahkan hasil maksimal, perlu di buatkan kandang penangkaran berkotak-kotak sepeti ukuran panjang lebar 150 CM dan tinggi 300 CM. Cara ini akan mempermudah perawatan karena tidak repot lagi untuk memindahkan masing-masing media pakan.

Kendala budidaya love bird adalah sifatnya yang suka berkelahi untuk memperebutkan pasangannnya dan dalam memperbutkan tempat untuk bertelur.

Subino, salah seorang pembudidaya love bird, asal Kelurahan Randu Agung, Kecamatan Kebomas Gresik, Jawa Timur mengatakan, masih jarang warga yang menggeluti love bird, meskipun permintaan pasar relatif tinggi, sehingga harganya relatif mahal pula. “Padahal, ini bisnis sangat menggiyurkan yang jarang di lirik orang”, ujar Subino

Semula Subino memasarkan love bird produksinya ke Surabaya dan kota-kota besar lainya, tetapi sekarang tidak lagi, karena produksi terbatas. Bahkan, para pecinta burung cinta, kini langsung datang ke rumah tinggalnya yang dijadikan pusat penangkaran.(86)

BUDIDAYA IKAN PATIN, BISNIS BARU PETANI TAMBAK



Ikan patin adalah satu jenis ikan yang memiliki banyak keunggulan. Selain dagingnya yang gurih, mengandung banyak lemak serta tak terlalu berduri. Bermula dari sekedar iseng, seorang petani tambak di Lamongan Jawa Timur, berhasil membudidaya ikan patin. Budidaya hasil kerja kerasnya tersebut menjadi usaha yang sangat menjanjikan.

Aktifitas yang telah lima tahun dijalaninya ini, lambat laun menjadi usaha yang menjanjikan baginya. Dibanding dengan budidaya jenis ikan lain, ikan patin memiliki beberapa keunggulan. Di antaranya, dagingnya yang gurih, banyak mengandung lemak, serta tak terlalu banyak durinya.

Hanya bermodalkan area tambak seluas satu hektar, muslikan menyekat tambaknya menjadi beberapa petak. Tujuannya, untuk memisah antara ikan yang masih kecil dan ikan yang siap dipanen.

Budidaya ikan patin tergolong rumit, dibanding dengan budidaya ikan tawar lainnya. Terkadang, pemilik harus mengeluarkan modal besar untuk membeli obat obatan pemusnah bakteri, agar ikan patin terjaga sehat alami.

Selain memiliki kelebihan pada dagingnya, ikan patin ini tergolong murah harganya, berkisar antara sebelas hingga Dua Belas Ribu Rupiah perkilogram.

Meski demikian, untuk satu musim panen, selama empat bulan. Dari seribu bibit untuk setiap petaknya, muslikan mampu menghasilkan ikan patin sebanyak empat hingga empat setengah kwintal. Dapat diperkirakan meraup keuntungan hingga puluhan Juta Rupiah. “Lumayan untuk membantu menghidupi keluarga”, ujar Muslikan.

Meski memiliki rasa gurih dan harganya yang relatif murah. Namun masyarakat sepertinya kurang mengetahui akan keberadaan ikan patin. Muslikan untuk sementara ini hanya memasarkan ikannya di wilayah Lamongan, Bojonegoro dan Tuban.

Saat cuaca ekstrim yang menyebabakan para petani tambak ikan banding dan udang windu mengalami gagal panen seperti saat ini, budidaya ikan patin ini bias menjadi alternative. (86)

MENUJU SUKSES DENGAN BUDIDAYA KEPITING KERAMBA



Bagi sebagian orang, musim hujan bisa saja merugikan karena bisa menyebabkan banjir. Namun tidak demikian halnya bagi pembudidaya kepiting yang menggunakan media keramba di wilayah Kecamatan Kraksaan Probolinggo Jawa Timur. Musim hujan justru sangat menguntungkan karena omset penghasilan dari usahanya meningkat tajam.

Ahmad Fadol (30 tahun) misalnya, warga Kebon Agung merasa mendapat berkah tersendiri pada musim hujan tiba seperti saat ini. Betapa tidak, usaha budidaya kepiting miliknya meningkat tajam, hingga 50 persen dalam sebulan.

Usaha yang dirintis sejak tahun 2009 dengan modal awal hanya 600 Ribu Rupiah, di musim hujan ini bisa berlipat ganda hingga puluhan Juta Rupiah. Sebab, pada musim hujan intensitas panas matahari menjadi berkurang yang menyebabkan kepiting berkembang dengan baik. Di samping itu, Risiko beternak kepiting juga relatif kecil. Kepiting jarang terkena penyakit dan jika banjir datang kepiting tidak akan hanyut karena terlindung dalam keramba.

Sedangkan Bila musim kemarau, Fadol hanya bisa memanen kepiting setiap 1 bulan saja, kini hanya membutuhkan waktu 15 hari untuk memanen, terutama kepiting yang berkualitas baik.

Masing-masing Satu dari 10 kerambah kepiting milik fadol, bisa menghasilkan sekitar 1 Kwintal kepiting siap panen. Sementara harga jual kepiting antara 150 hingga 175 Ribu Rupiah perkilogramnya. Jadi dengan 10 keramba dipastikan bisa menghasilkan uang 150 Juta Rupiah setiap kali panen.

Dengan di potong biaya operasional dan biaya karyawan sebesar 40 persen, setiap sekali panen, Fadol bisa meraup keuntungan bersih sekitar 100 Juta Rupiah dan dalam sebulan bisa mencapai 200 Juta Rupiah.

Proses budidaya kepiting jenis Jawa ini tergolong sangat mudah dan tidak memerlukan perawatan istimewa. Bibit kepiting mula-mula di masukan kerambah, kemudian di beri pakan ikan teri. Dalam waktu 15 hari, kepiting siap di panen dan di pasarkan dalam keadaan hidup.

Kepiting hasil budidaya ini biasanya di pasarkan ke sejumlah Negara Asia, seperti Jepang, Korea dan Thailand.

BUDIDAYA TANAMAN HOLTIKULTURA DI PEMATANG TAMBAK


Petambak di Kecamatan Glagah-Lamongan, Jawa Timur, punya inovasi kreatif untuk meningkatkan penghasilan mereka dari budidaya ikan di tambak. Yakni dengan membudidayakan tanaman jenis holtikultura di pematang tambak mereka.

Sampai saat ini sudah ada empat desa di Glagah yang aktif membudidayakan holtikultira di pematang tambak. Yaitu di Desa Sudangan, Medang, Karangagung, dan Desa Kentong. Sejak 2006 lalu, Dinas Pertanian dan Kehutanan setempat telah meluncurkan program pengembangan demplot tanaman cabe merah jenis hibrida seluas 6,25 hektar di desa Medang dan Sudangan.

“Tanaman holtikultura di pematang sawah tambak sebagain besar diusahakan diusahakan petambak di Glagah sebagai sambilan. Sambil menunggu panen ikan atau padi sehingga tanaman yang diplih lebih banyak pada jenis yang bisa dipanen secara harian atau mingguan. Tiga komoditi yang menjadi favorit petani disini adalah, tomat, cabe rawit dan cabe merah besar, “ urai Camat Glagah M. Zamroni.

Menurut Zamroni, keuntungan yang dihasilkan dari usaha sambilan itu cukup lumayan. Seperti tomat yang bisa mencapai Rp 2 juta setiap hektarnya. Keuntungan tersebut dengan asumsi setiap hektar lahan yang ditanamai tomat bisa dipanen hingga 860 kilogram. Dengan harga jual yang bisa mencapai Rp 3000 perkilogramnya, bisa menghasilkan Rp 2,6 juta setiap hektar. Sehingga keuntungannya bisa mencapai Rp 2 juta setiap hektarnya.

“Dimusim tanam 2010-2011, petani disini lebih memilih tanaman jenis tomat. Karena harganya yang sempat sangat tinggi di musim tanam lalu. Selain itu perawatannya mudah dan bisa dipanen dalam jangka waktu lebih lama. Dari keseluruhan 450 ribu batang tanaman holtikultura yang musim ini dibudidayakan, 80 persn diantaranya jenis tomat. Sementara sisanya, 15 persen jenis cabe rawit dan 5 persen jenis cabe merah besar, “ ujar dia.

Bupati Lamongan, H. Fadeli sendiri menyatakan sangat mendukung kreatifitas petani tambak di Galagah tersebut. Hal itu menurutnya sejalan dengan program gerakan membanguan ekonomi rakyat Lamongan berbasis pedesaan (Gemerlap). Yakni dengan memajukan satu produk unggulan di masing-masing desa. “Pemerintah daerah tentunya akan memberikan bantuan pembinaan agar potensi yang dimiliki suatu desa bisa lebih berkembang. Seperti yang saat ini telah dikembangkan di Glagah, “ ujarnya.

Ditambahkannya, kedepan akan dibangun tempat pemasaran khusus untuk produk holtikultura di desa Medang. Sehingga akan bisa meningkatkan kualitas dan harga jual produk. Lebih jauh, kesejahteraan petani akan meningkat. Musim tanam lalu, produksi tomat di Glagah mencapai 25 ton, cabe rawit 7,5 ton dan cabe merah besar mencapai 15 ton.

Sedangkan di seluruh Lamongan, tanaman tomat ditanam di lahan seluas 47 hektar dengan produksi mencapai 478, 4 ton. Sementara jenis cabe rawit luas tanamnya mencapai 3.026 hektar dengan produksi mencapai 3.279,1 ton. Kemudian jenis cabe meras ditanam di lahan seluas 63 hektar dengan produksi mencapai 153,8 ton.(Humas Pemkab Lamongan)