Showing posts with label Burung Berkicau. Show all posts
Showing posts with label Burung Berkicau. Show all posts

BUDIDAYA BURUNG JALAK SUREN, HOBI MENJANJIKAN



Jika ditekuni dengan benar, sebuah hobi akan mampu mendatangkan rejeki. Seperti yang di lakukan seorang penghobi burung Jalak Suren di Klaten, Jawa Tengah, hobinya tersebut mampu menjadi pekerjaan yang bisa mendapatkan hasil yang menjanjikan serta bisa menjadi tumpuan hidup keluarganya selama bertahun-tahun.

Burung Jalak Suren tergolong jenis burung langka serta memiliki suara kicau yang khas dan merdu. Selain bentuknya yang indah, gerak dan penampilannya pun menarik sehingga mampu memikat hati dengan suara dan kicaunya yang amat merdu. Karena itu, tak heran jika banyak warga yang ingin memiliki burung Jalak Suren tersebut.

Apalagi, Jalak Suren dilambangkan sebagai burung jinak penjaga rumah. Dengan memelihara burung ini, rumah akan selalu terjaga setiap hari karena Jalak Suren merupakan burung yang sangat peka. Jika ada orang datang, akan bersuara nyaring.

Budi Hartono, warga Dusun Canan Desa Jimbung, Kalikotes, Klaten, misalnya sudah 9 tahun menjalankan bisnisnya dengan beternak Jalak Suren. Bahkan, bisnis penangkaran burung jalak miliknya sudah menjadi tumpuan hidup keluarganya. Hasilnya pun cukup lumayan, setiap bulan tidak kurang dari seratus burung yang pandai mengoceh itu menetas dan harganya pun lumayan tinggi.

Menurut Budi Hartono, setiap anakan Jalak Suren umur 10 hari hingga baru belajar berkicau, dijual dengan harga 250 Ribu Rupiah, sedangkan yang sudah berumur sebulan sampai empat bulan mencapai 500 hingga 1 Juta Rupiah per ekor. Untuk burung Jalak Suren yang bisa berkicau panjang sambil jambul dan sayapnya mengepak merdu selama 30 menit bisa laku dijual hingga 5 Juta Rupiah.

Selain menjual burung yang pandai berkicau, Budi juga menjual burung indukan, yakni jalak betina yang sudah berumur satu tahun.

MENDULANG REJEKI DENGAN BUDIDAYA BURUNG PERKUTUT



Membudidayakan burung perkutut merupakan hobi sekaligus bisa mendatangkan keuntungan besar. Selain mudah perawatannya, burung perkutut mempunyai istimewaan yakni mampu hidup lebih dari Lima Puluh Tahun, sama dengan umur manusia.

Dibanding budidaya unggas lainnya, membudidayakan perkutut mempunyai beberapa kelebihan. Dari sisi teknis pengelolaan, budidaya perkutut tidaklah rumit. Dengan teknik beternak yang jitu, modal yang dikeluarkan juga tidak terlalu besar. Dengan sangkar berukuran 1x 1x 2 meter persegi, para penggemar perkutut dapat membudidayakannya.

Salah satunya adalah Dalhari, warga Desa Paponan, Kecamatan Kledung, Kabupaten Temanggung Jawa tengah. Sejak dua puluh tahun ini, Dalhari membudidayakan burung perkutut di rumahnya. Disamping mudah perawatannya, burung perkutut juga tidak gampang stres dan terkena penyakit. Hanya yang menjadi perhatiannya sehari harinya adalah membersihkan kandang, memberi pakan dan minuman.

Untuk pakan burung, Dalhari hanya menyiapkan biji bijian, rumput dan padi padian yang merupakan makanan utama dari perkutut. Selain itu juga diberi pakan berupa beras merah, milet, butiran jagung serta vitamin untuk ketahanan tubuh.

Terdapat dua jenis perkutut yang kini dibudidayakan Dalhari, yakni jenis lokal dan Bangkok. Dua jenis tersebut nantinya akan disilangkan menjadi induk. Dalhari memilih dua jenis itu karena masing masing jenis mempunyai keistimewaan tersendiri. Dari jenis lokal mempunyai ketahanan tubuh yang kuat, sedangkan jenis bangkok mempunyai suara yang bagus. Dengan cara tersebut, perkutut mampu berkembang biak hingga tiga kali dalam kurun waktu dua bulan dengan bibit yang berkualitas bagus.

Setiap bulannya, Dalhari mampu menjual sekitar Tiga Puluh ekor. Untuk perkutut yang baru berumur lima belas hari, dirinya menjual dengan harga satu hingga satu setengah juta rupiah. Sedangkan burung perkutut yang tergolong berkualitas bagus dijual dengan harga puluhan hingga ratusan juta rupiah.

Kebanyakan para penggemar perkutut dari berbagai daerah di indonesia seperti, jakarta, semarang, jawa timur dan jogyakarta, datang langsung kerumah Dalhari untuk membelinya. Dalam sebulan dalhari mampu meraup keuntungan hingga Puluhan Juta Rupiah dari bisnisnya tersebut.

LOMBA BURUNG BERKICAU, BUKTI UDARA GRESIK MASIH AMAN



Rupanya harapan kicaumania Gresik untuk menjadikan Gresik berkicau benar-benar terwujud. Betapa tidak, sejak dilantik 7 bulan yang lalu Bupati Gresik telah 2 kali menyelenggarakan lomba burung berkicau tingkat Nasional.

Event lomba burung berkicau kali ini dibuka oleh Bupati Gresik, Dr. Sambari Halim Radianto memperebutkan piala Bupati Gresik. Acara yang berlangsung pada Minggu, (17/4) di halaman kantor Pemerintah Kabupaten Gresik dalam rangka Hari Jadi kota Gresik ke 524, sekaligus memperingati HUT Pemkab Gresik ke 37.

Tentu ini pertanda baik, karena para penggemar burung percaya bahwa kota Gresik sebagai kota industri masih layak untuk kehidupan mahluk hidup terutama burung-burung berkicau. “Kami yakin bahwa tingkat polusi di Gresik masih aman dan tidak berpengaruh pada kehidupan, terbukti saat burung-burung ini mulai ditenggerkan, mereka langsung berkicau” demikian Bupati meyakinkan peserta.

Lomba ini unik, dan kami menganggap juri dan panitia itu hebat, karena dapat menilai baik buruknya suara burung. Bupati juga berharap agar lomba ini dilaksanakan secara fair play,”jangan ada titipan, agar lomba ini bisa menjadi tolok ukur dan ajang yang dapat dipercaya oleh komunisas penggemar burung” ujar Sambari mewanti-wanti panitia. Semoga event ini banyak memberikan kemajuan bagi kabupaten Gresik terutama pada sisi perekonomian, tambahnya.

Pada festival kali ini tampak lebih besar dan meriah dari event Bupati cup sebelumnya. Karena jumlah burung yang unjuk kebolehan lebih banyak. Pesertanyapun dari berbagai kota bahkan ada yang dari luar pulau. Menurut Ketua Panitia Festifal, Alexander, lomba kali ini dibagi dalam 23 kelas dan jenis burung. Adapun hadiah yang akan diperoleh untuk juara I Bupati Cup yaitu khusus kelas burung dari jenis anis merah, cendet, cucak hijau dan murai batu yaitu uang tunai Rp. 3 juta ditambah bonus Rp. 2 juta.

Sementara salah seorang peserta yang tidak pernah absen dalam festival burung , Rudi Pancer (38) mengaku senang bisa berlomba di Gresik. Betapa tidak, pria asal Surabaya ini Pada Bupati cup sebelumnya, berhasil meraih juara pertama Bupati Cup 2010. Burung punglor merah yang diberi nama euro milik Rudi Pancer ini berhasil menyisihkan ratusan burung punglor merah yang lain. (sdm, Humas Pemda Gresik).