Showing posts with label Batik. Show all posts
Showing posts with label Batik. Show all posts

BATIK SENDANGDUWUR, IKON KOTA LAMONGAN



Batik kini telah diakui oleh Lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui UNESCO, lembaga yang menaungi masalah kebudayaan sebagai warisan budaya dunia. Sementara Lamongan sendiri memiliki banyak motif batik, terutama yang dihasilkan oleh pengrajin dari Desa Sendangduwur/Paciran. Tidak lama lagi, akan dimunculkan satu ikon desain batik Lamongan tersendiri yang mewakili karakter Lamongan oleh pemerintah daerah setempat.

Disampaikan Kepala Dinas Koperasi Industri dan Perdagangan (Diskopindag) Lamongan Mubarok melalui Kabag Humas dan Infokom Anang Taufik, saat ini Diskopindag sedang membuat lomba desain batik khas Lamongan. Nantinya, lanjut dia, desain batik terbaik akan diseminarkan dengan mengundang ahli batik dari Jawa Tengah dan pemenangnya dijadikan sebagai ikon batik khas Lamongan.

Keberadaan banyaknya pengrajin batik di Desa Sendangduwur ini menjadi salah satu alas an desa di puncak bukit ini ditetapkan sebagai Desa Wisata di Jawa Timur. Peresmian Desa Wisata itu sendiri kemarin dilakukan oleh Bupati Fadeli saat di damping Sekkab Yuhronur Efendi di Desa Sendangduwur.

“Sangat tepat apabila Desa Sendang Duwur ini dijadikan Desa Wisata belanja. Karena memiliki beberapa karakteristikan atau ikon khusus untuk menjadi daerah tujuan wisata. Seperti masyarakatnya yang sebagian besar sebagai pengrajin baik batik, maupun logam emas dan perak dan bordir. Selain itu desa ini juga sudah menjadi tujuan wisata religi dengan keberadaan makam Sunan Sendang Duwur sebagai salah satu penyebar Islam di Pulau Jawa dan adanya masjid yang berusia ratusan tahun, “ ujar Fadeli seusai peresmian.

Dia juga menyebut masyarakat Desa Sendang Duwur masih relatif tegus memegang tradisi dan budaya asli, juga nilai-nilai religius.”Saya yakin sektor ekonomi baik perdagangan dan jasa akan segera bergeliat jika nantinya desa wisata tersebut sudah berjalan, maju dan diminati wisatawan, “ kata dia.

Di desa ini, terdapat 450 pengrajin batik dan 26 diantaranya adalah pengusaha. Sementara pengrajin emas dan peraknya mencapai 120 orang serta pengrajin order mencapai 65 orang. Selama tahun 2011 lalu, total ada 1.634.158 wisatawan nusantara (wisnu) yang berkunjung di Lamongan. Juga terdapat kunjungan 405 wisatawan mancanegara(wisman). Kunjungan tertinggi masih terjadi di WBL, yakni 957.971 orang wisnu dan 165 wisman. Kemudian di Mazoola sebanyak 369.384 pengunjung wisnu dan 196 orang wisman.

KERAJINAN BATIK KAYU YANG ELEGAN



Membatik dengan mengunakan kain merupakan hal yang biasa. Di Klaten, Jawa Tengah, sejumlah warga sengaja mencari kreasi lain dengan memanfaatkan media kayu sebagai tempat menuangkan kreasi seni membatik. Selain tak kalah unik dan menarik, membatik kayu juga sebagai wujud melestarikan budaya bangsa.

Deretan aneka kerajinan rumah tangga unik dan menarik yang terjajar rapi di etalase di sejumlah show room di Desa Jarum, Kecamatan Bayat, Klaten, merupakan hasil kreasi dari kerajinan batik dengan media kayu. Sesuai namanya, kerajinan ini dilukis oleh para seniman dengan teknik membatik diatas benda-benda yang terbuat dari kayu.

Sejumlah seniman warga sengaja mengembangkan kualitas seni produk serta jeli mencari peluang usaha dengan memanfaatkan kayu sebagai media kerajinan batik lukis.

Membatik di atas media kayu bisa dibilang lebih sulit dari membatik di atas kain. Apalagi jika kayu itu dibentuk berlekak-lekuk atau berceruk-ceruk. Perlu keahlian untuk mencanthing kan lilin di atas kayu yang tidak rata. Sebab, jika tidak terampil, hasilnya bias kurang bagus.

Sepintas pembuatannya hampir sama dengan membatik di atas media kain. Namun yang membedakan, membatik dengan media kayu, selain kaya variasi model dan bentuknya, juga mempunyai keunikan yang lebih banya. Karena kayu yang dibatik ini umumnya mengandung serat sehingga si pembatik harus terampil.

Untuk membuatnya, mula-mula lembaran kayu seperti kayu mahoni, sonokeling, kayu kelapa, diambil lalu dipotong dibentuk sesuai bentuk yang diinginkan, seperti kerajinan rumah tangga, mainan anak, topeng hingga kerajinan dinding.

Setelah itu, proses pembatikan di mulai yang diawali dengan pembuatan pola dan motif diatas kayu. Proses ini selain membutuhkan ketelian juga kesabaran, karena pembuatan pola akan menentukan bentuk dari hasil dari kerajinan batik kayu.

Usai dibatik dengan mengunakan bahan malam dan lilin, kerajinan batik kayu ini akan lebih menarik dan tahan lama dengan cara direbus dalam larutan pewarna. Hasilnya pun, kerajinan batik kayu cantik dan unik yang cocok sekali untuk hiasan dinding rumah maupun tempat anda, siap di pasarkan.

Rata-rata, warga menekuni usaha kerajinan batik kayu ini sejak 8 tahun lalu, dengan pemasaran di sejumlah kota besar mulai dari Jakarta, Surabaya, Yogjakarta dan Bali.

Harganya cukup bervariasi mulai dari 45 Ribu hingga jutaan Rupiah tergantung besar kecil dan tingkat keunukan dari kerajinan batik kayu itu sendiri.

SAJADAH BATIK, COCOK UNTUK SOUVENIR LEBARAN



Yuli Astuti, salah seorang pengusaha batik di Desa Karangmalang, Kecamatan Gebog, Kudus, Jawa Tengah, berkreasi dengan membuat sajadah batik, yakni sajadah dengan perpaduan seni budaya batik berbagai motif Islami. Tak heran, sajadah tersebut memiliki daya tarik tersendiri.

Layaknya membatik pada umumnya, proses pembuatan sajadah ini pun tak jauh berbeda. Hanya membutuhkan waktu relatif lebih lama mengingat sajadah harus ditulis secara manual dengan tangan. Untuk membuat satu lembar sajadah, dibutuhkan waktu setidaknya tiga hari.

Semakin rumit motif dan semakin banyak warna, maka proses penyelesaiannya pun semakin lama. Meski demikian, Yuli mengaku menikmatinya. Apalagi hasilnya sangat disukai dan terlebih lagi produknya di pastikan di gunakan untuk beribadah.

Pada kain katun putih berukuran lebar tujuh puluh centimeter dan panjang seratus dua puluh centimeter, bermacam sketsa motif Islami seperti kaligrafi, gambar masjid, serta ornamen Islam lainnya di sket terlebih dahulu. Sketsa tersebut kemudian ditulis ulang dengan menggunakan canting dan malam yang telah dipanaskan.

Kain sajadah yang telah diberi motif tersebut dicelupkan kedalam ember yang sudah diberi pewarna. Proses akhir adalah penjemuran sekaligus penyempurnaan. Berbagai

Menurut Yuli Astuti, ide awal membuat batik sajadah berangkat dari keinginan memadukan kreasi seni batik tulis yang sudah lama ia tekuni dengan motif nuansa islami, seperti motif kaligrafi yang dipadu dengan motif klasik kuno Kudus berupa masjid menara.

Harga yang dipatok untuk satu lembar sajadah ini bervariasi. Mulai Harga Dua Puluh Lima Ribu hingga Lima Puluh Ribu Rupiah setiap lembarnya, tergantung kualitas bahan dan tingkat kerumitan motifnya.

Meski belum memproduksi untuk partai besar, namun Yuli mengaku permintaan sajadah batik semakin banyak khusunya saat bulan Ramadhan. Selain dipakai untuk kelengkapan sarana ibadah sholat, sajadah batik ini juga cocok untuk sovenir mudik lebaran, karena mudah dilipat dan praktis dibawa kemana-mana.

Kedepan, Yuli berencana memproduksi sajadah batik berbagai ukuran, termasuk untuk ukuran anak-anak, sehingga produknya akan lebih memasyarakat.

KELOM BATIK CANTIK TEMBUS PASAR EKSPOR



Membatik ternyata tidak hanya bisa dituangkan di kain saja. Di kota Tasikmalaya, Jawa Barat, batik tulis juga dituangkan dalam kayu dan dijadikan sandal. Namanya kelom batik, yakni perpaduan kelom geulis asli Tasik dengan corak budaya Jawa. Kelom batik tersebut kini sudah dipasarkan diseluruh dunia. Jepang merupakan negara yang rutin dieksport setiap bulannya.

Salah satu boutique terkemuka yang menjual hasil karya kelom batik berada di Jalan Dadaha Kota Tasikmalaya, Jawa Barat. Boutique ini merupakan sentra pengrajin kelom batik asal Tasikmalaya, milik Ana Nuryana. Kelom batik tersebut merupakan slop atau kelom geulis yang dipadukan dengan corak dan budaya Jawa, dengan motif batik.

Sama seperti pembuatan kelom geulis lainnya, sebelum diproses untuk dilakukan pembatikan, terlebih dahulu kelom dipola sesuai motif pesanan dan khas Tasik. Baru setelah itu kemudin dilakukan pembatikan.

Setelah dibatik kemudian dicelupkan kedalam air pewarna dari kayu, kemudian dijemur dibawah terik matahari. Selain batik ada juga kelom yang di airbush. Kelom ini dicat terlebih dahulu sebagai dasar. Kemudian di air bush dan biasanya mengunakan motif bunga.

Kelom batik dan kelom airbush sama cantik dan menariknya. Jika anda tertarik bisa membuat motif sendiri. Ciri khas batik Tasik adalah gambar bunga yang warnanya mencolok.

Ana Nuryana, sudah sepuluh tahun lamanya menggeluti usahanya. Kini produknya sudah dipasarkan diseluruh dunia.

Setiap hari Ana bisa memproduksi sekitar 200 pasang, namun itupun tak sebanding dengan pesanan yang setiap harinya mencapai 1.000 pasang. Dengan Harga bervariasi dari 75 Ribu Rupiah sampai 90 Ribu Rupiah per pasang.

Untuk ekspor ke Jepang saja, setiap bulannya dia harus mengeksport sekitar 600 pasang, sementara ke Belanda sekitar 200 pasang. Selain mengeksport dia juga sudah mengisi hampir setiap outlet dan boutique diseluruh Indonesia.

BATIK TULIS REMUK, KHAS DAN UNIK



Batik remuk, dari namanya saja sudah terdengar unik dan mengundang tanda tanya. Kerajian asli pekalongan sudah sudah lama di buat namun tidak banyak yang masih bertahan.

Disebut batik remuk karena dalam proses pembuatannya kain, yang telah di beri pemisah warna dengan 'malam' di pukul menggunakan kayu sehingga malam yang telah menutup kain tersebut menjadi pecah atau remuk.

Ismet salah seorang pengrajin batik remuk warga Kecamatan Tirto Pekalongan, Jawa Tengah, masih mempertahankan membuat kerajinan ini. Pembuatan batik ini di kerjakan secara tradisional, tanpa bantuan mesin modern.

Batik remuk tersebut kebanyakan di lukis di atas kain yang berbahan kaos warna putih di beri motif mengunakan pensil. Selanjutnya motif yang sidah jadi tersebut di tutup dengan menggunakan lilin atau malam menggunkan alat yang dinamakan canting.

Proses selanjutnya, yakni batik tersebut di pukul dengan menggunakan kayu sehingga lilin atau malam tersebut pecah. Dari pecahan malam tersebut, menghasilan warna yang khas, seolah olah ada retakan diatas kain.

Setelah diremuk, selanjutnya kain tersebut direbus dengan mengunakan drum yang berisi air panas, dan di celupkan kedalam zat pewarna kain sesuai dengan warna yang diinginkan. Proses pewarnaan ini lebih di kenal dengan pelorotan, selanjutnya kain tersebut di jemur di bawah terik matahari hingga kering.

Kain yang telah kering, kemudian di jahit menggunakan mesin, untuk kemudian di setrika dan di kemas dalam plastik.

Harganya perpotong batik remuk sangat terjangkau, yakni hanya berkisar 25 Ribu sampai 50 Ribu Rupiah perpotongnya. Karena proses yang cukup lama, banyak dari perajin batik enggan menggunakan cara ini. Tidak sedikit perajin batik yang pindah cara instan, yaitu dengan sistem printing.

Ismet, perajin batik remuk, mengatakan, akan terus menggeluti batik tulis remuk, agar tradisi ini tidak hilang.

BATIK LENTE DENGAN MOTIF KERANG LAUT



Tak hanya kota Pekalongan atau Solo yang memiliki perajin batik khas kota tersebut. Kota Situbondo Jawa Timur juga memiliki batik khas kota santri bernaa Batik Lente yang di dominasi motif kerang laut dan daun bakau sebagai cirri khasnya.

Masyarakat Situbondo menyebutnya dengan “batik lente”. Sebab awal mula nenek moyang mereka membuat batik ini menggunakan lidi (bahasa madura lente). Seiring bergulirnya waktu, lidi pun diganti dengan canting batik.

Sentra pengraji batik lente berada di Desa Selowogo, Kecamatan Bungatan. Meski sempat vakum sejak tahun 2002 lalu akibat musibah banjir bandang yang menerjang kawasan kota Situbondo hingga memporak porandakan usaha kecil mereka, Namun seiring perkembangan waktu, batik lente, lambat laun kembali menggeliat.

Konon, Nenek moyang mereka yang pertama kali membatik melihat potensi Situbondo yang hampir sebagian wilayahnya berada di kawasan pantai, menjadikannya sebagai ide motif batik. Di berilah motif batik Situbondo itu dengan gambar kerang dan daun bakau.

Harga perhelai batik lente di jual dengan harga variatif dari 150 Ribu hingga 250 Ribu Rupiah tergantung motif dan jenis kainnya.

Selain memenuhi permintaan dalam kota Situbondo, pemasaran batik lente juga merambah hingga ke Probolinggo, Jember, Bondowoso dan Madura.

Untuk membuat batik lente hamper sama dengan membatik pada umumnya. Pertama membuat sketsa batik diatas kain putih. Kemudian sketsa itupun di batik. Usai kain dibatik. Langkah selanjutnya menghilangkan malam ( lilin cair) untuk membatik dengan mencucinya di atas air yang mendidih. Usai dibersihkan. Batikpun di keringkan di terik matahari sembari kain batik di bersihkan dari bercak bercak kotoran.

Corak dan motif batik lente sangat khas. Yakni menonjolkan motif kerang dan daun bakau yang tidak di temui di berbagai daerah lain. Hal inilah yang mendorong batik lente menjadi ikon tersendiri bagi kota Situbondo.

BATIK LUKIS MUKENA KONTEMPORER



Batik ternyata juga dapat dibuat dengan cara yang berbeda dan dengan warna serta motif yang cerah pula. Batik mukena lukis ternyata bisa di produksi dengan tampilan yang cantik dan menarik. Gambar lukis batik tersebut juga berupa kartun maupun bunga-bunga yang sedang menjadi trend, di semua kalangan.

Adalah Tomo Kusumo, warga Pogung Baru, Sleman, Yogyakarta, yang berhasil mengembangkan batik dari jenis batik tradisional menjadi batik kontemporer atau modern. Di rumah produksinya yang diberi nama Tawon Gung, Tomo kususmo membuat berbagai macam motif batik lukis, pada mukena, tas serta berbagai aksesoris kecantikan lainnya, termasuk kain sprei atau bad cover.

Dengan motif dan warna-warna yang cerah, seperti warna merah, biru, kuning, hiaju maupun pink, batik lukis pada mukena , dijamin tidak akan luntur warnanya. Apalagi, kainnya di jamin 100% kain cotton.

Tomo kususmo, juga sengaja membuat motif pada kain, dengan motif bunga, serta gambar-gambar yang disukai anak-anak, seperti gambar kartun maupun mobil. Pasalnya motif tersebut saat ini lebih banyak disukai, dari pada motif batik tradional.

Proses pembuatan batik lukis tersebut memang berbeda dengan batik tradisional pada umumnya. Pada batik lukis kontemporer yang dibuat Tomo Kusumo, proses pewarnaan tidak dilakukan dengan mencelup kain pada pewarna. Namun, langsung dilakukan pada kain layaknya melukis pada kain kanfas.

Pertama-tama, kain putih diberi gambar pola, sesuai dengan keinginan atau pesanan. Kemudian kain tersebut dibatik dengan canting dengan cairan lilin atau malam dan kemudian dikeringkan. Proses selanjutnya adalah pewarnaan kain, dengan zat pewarna kimia dengan warna-warna yang cerah.

Seperti layaknya membuat lukisan, pewarnaan dilakukan dengan menggunakan kuas. Agar warna pada batik lukis tersebut dapat bertahan lama, kain selanjutnya direbus dan dijemur hingga kering. Perebusan kain juga dilakukan untuk melepaskan lilin atau malam pada kain tersebut.

Selanjutnya, kain batik lukis dijahit menjadi mukena, tas maupun asesoris lain, termasuk sprei atau bad cover dan sajadah.

Awalnya, batik lukis tersebut, dibuat hanya dengan coba-coba. Tomo Kusumo, ingin membuat batik dengan cara yang berbeda. Setelah beberapa kali melakukan percobaan, baru dihasilkan batik lukis kontemporer. Produk barunya ini banyak disukai di masyarakat, baik didalam maupun di luar negeri.

Menurut Tomo Kusumo, batik lukis tersebut sangat berbeda dengan batik tradisional pada umumnya. Tomo juga mengaku, batik yang dibuatnya, akan selalu mengikuti trend yang ada, termasuk dengan warna-warna yang cerah.

Pemasaran produk ini sudah hampir merambah keseluruh wilayah di tanah air, termasuk ke mancanegara, seperti Abudabi, Spanyol, Perancis dan Amerika. Rata-rata, batik lukis buatan Tomo Kusumo, dijual antara 30 Ribu hingga 500 Ribu Rupiah, tergantung barang yang dibuat serta motif dan warnanya.

Untuk melihat katalognya, anda bisa berkunjung ke : http://tawon-gung.blogspot.com/

MOTIF INDAH BATIK “SASIRANGAN” KHAS BANJAR



Di setiap daerah di Indonesia, kain batik memiliki kekhasan tersendiri dengan corak dan motif yang berbeda. Nah,di Banjarmasin kalimantan selatan dikenal dengan kain batik “Sasirangan”. Motif kain khas Kalimantan Selatan ini kerap dipakai oleh semua lapisan masyarakat, mulai dari golongan ekonomi menengah kebawah, hingga golongan kelas atas untuk berbagai kesempatan.

Setidaknya ada belasan macam motif Sasirangan yang populer digunakan oleh masyarakat lokal. Diantaranya motif Sarigading, Naga Balimbur, Kambang Raja, Bintang Bahambur, Daun Jaruju, Iris Pudak, Kembang Kacang, Ombak Sinapur Karang dan Sisik Tanggiling. Motif batik ini disesuaikan dengan jenis kain yang dipakai, seperti kain katun, mori, polyester dan kain sutera.

Pembuatan batik Sasirangan tidak diperlukan peralatan khusus, cukup dengan tangan saja untuk mendapatkan motif maupun corak tertentu, yakni melalui teknik jahitan tangan dan ikatan yang dibuat dengan teknik tusuk jelujur kemudian diikat tali rafia dan selanjutnya dicelup.

Batik Sasirangan bisa digunakan dalam berbagai kesempatan. Bisa untuk kegiatan sehari-hari maupun menghadiri pesta perkawinan atau berbagai acara resmi lainnya. Coraknya yang beragam dan mencolok akan menambah cantik dan indah pemakainya.

Harga kain Sasirangan bervariasi mulai Puluhan Ribu hingga Ratusan Ribu Rupiah per meter sesuai dengan motif, warna dan bahan kain yang digunakan.

Batik Sasirangan adalah kain adat suku Banjar Kalimantan Selatan yang dibuat dengan teknik tusuk jelujur, diikat benang, gelang karet atau tali rafia, dan kemudian dicelup kedalam air hangat yang diberi pewarna. Pewarna yang digunakan sebagian dari bahan pewarna alam, seprti kulit kayu ulin, jahe, air kulit pisang dan daun pandan.

Pada zaman Kerajaan Banjar, batik Sasirangan digunakan sebagai ikat kepala atau “laung”, ikat pinggang untuk kaum lelaki dan selendang atau kemben untuk kaum perempuan. Bahkan kain Sasirangan dahulu kala juga dipakai untuk upacara adat dan alat penyembuhan orang sakit.

Belakangan ini, Sasirangan terus berkembang menyebar ke berbagai daerah seiring dengan perkembangan dunia mode yang sering mengadaptasi pakaian-pakaian adat tradisional.(86)

BATIK GITAR YANG BERNUANSA KE-INDONESIA-AN



Penetapan batik sebagai budaya Indonesia oleh Unesco ternyata melahirkan banyak kreasi baru berbahan kain asli indonesia. Salah satunya, seperti dilakukan oleh Indro warga kawasan Pucangsawit, Solo, Jawa Tengah, yang berhasil memproduksi gitar batik. Karena dianggap unik, kreasi ini langsung disambut antusias masyarakat, sehingga, tak kurang dari 50 buah gitar batik setiap bulannya harus dibuat untuk memenuhi pesanan dari berbagai kota di tanah air.

Awalnya, hanya di pameran-pameran kerajinan seperti inilah, kreasi gitar batik mulai diperkenalkan kepada masyarakat umum. Karena dianggap unik, setiap kali dipajang, gitar batik ternyata langsung menarik perhatian warga, terutama para pengunjung pameran.

Secara fisik, gitar ini memang tidak berbeda dengan kebanyakan gitar lainnya. Namun, balutan kain batik khas solo di hampir semua bagiannya, menjadikan gitar ini tampil lebih menarik dan bernuansa khas indonesia.

Demam penetapan batik sebagai hasil budaya Indonesia mampu mendorong Indro untuk kembali menggali dan merealisasikan ide lamanya. Awalnya, hanya untuk ikut memeriahkan penetapan tersebut dan mensosialisasikan batik kepada masyarakat umum, terutama kalangan generasi muda.

Sambutan masyarakat terhadap kreasinya tersebut ternyata sangat luar biasa, sehingga, pesanan justru terus berdatangan. Tak hanya dari dalam kota, namun juga dari berbagai kota di tanah air.

Dalam sebulan, setidaknya, 50 gitar batik harus dibuatnya untuk memenuhi pesanan tersebut. Karenanya Indro yang hanya lulusan sebuah SMU kini telah mempekerjakan lebih dari 20 karyawan .satu gitar batik biasanya dijual dengan harga antara 250 hingga 350 Ribu Rupiah.

Pembuatan gitar batik ini sebenarnya tidak banyak berbeda dengan gitar biasa. Perbedaannya, hanya pada bagian finishing atau penyelesaian gitar tersebut. Jika gitar biasa hanya dicat pada finishingnya, namun, pada gitar batik, finishing dilakukan dengan membalut gitar dengan kain batik.

Meski terlihat mudah, pembalutan ini ternyata memerlukan keahlian tersendiri, karena, proses penempelan lem hanya bisa dilakukan satu kali atau tidak bisa diulang. Karenanya, jika tidak hati-hati, kain batik akan rusak dan tidak bisa dipakai lagi.

Indro mengaku, kerajinan gitar ini sebenarnya sudah dijalaninya secara turun temurun. Berbagai pasang surut pun dialaminya, termasuk terpaan krisis ekonomi yang membuat omset penjualan gitar hasil kerajinannya terus menurun. “Alhamdulillah, hingga kini masih bias bertahan dan mampu melanjutkan warisan orang tua”, ujarnya.

Namun, berkat kreasinya berupa gitar batik ini, omset penjualannya pun sedikit demi sedikit terdongkrak kembali. Dengan begitu, bapak berusia 38 tahun tersebut tidak lagi merasa kesulitan untuk menghidupi 20 karyawannya.(86)

KLOMPEN BATIK YANG CANTIK DAN ELEGAN



Klompen atau sandal yang terbuat dari kayu merupakan alas kaki warisan leluhur yang harganya sangat murah. Biasanya, klompen sering di gunakan di dapur atau untuk shalat, karena strukturnya yang kuat dan agak tinggi.

Dengan seditik kreatifitas, yakni dengan dipoles dengan sentuhan seni batik, Agus Setiwan (36 tahun) warga Jalan Mayjen Haryono, Kelurahan Jati, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo Jawa Timur, berhasil mengubah sandal klompen menjadi lebih bernilai.
Usaha kerjinan klompen batik yang dirintis sejak 2 tahun yang lalu, kini usaha membuat kerajinan klompen batik diserbu pembeli di pasaran.

Ide awal membuat kerajinan klompen batik karena ia melihat harga klompen yang sangat murah dan kurang di hargai. Padahal, klompen merupakan bagian dari kekeyaan buadaya indonesia. Apalagi, Agus juga bekerja sebagai pembuat sandal yang sudah mempunyai pangsa pasar luas, sehingga tidak kesulitan untuk menawarkan hasil kerajinan klompen batik tersebut ke khalayak umum.

Bisa dibayangkan klompen atau sandal kayu yang selama ini harganya relatif murah berkisar 5 ribu rupiah perpasang, hanya dengan sedikit kreasi batik, nilai jual klompen meningkat menjadi 35 ribu rupiah perpasang. Tak hanya itu, klompen yang sebelumnya hanya di gunakan hanya di dapur, kini banyak di pakai untuk di jalan-jalan umum karena mampu menambah style pemaikanya.

Agus mengungkapkan, proses pembuatan klompen batik, hampir sama dengan proses pembatikan pada umunya, dimana harus dibuat pola batik, di batik dengan malam, pewarnaan. Selanjutnya di lakukan pelorotan atau proses menghilangkan malam.
Setelah kering, barulah di mulai proses pembentukan sandal dengan di berikan tali dan sol sandal. Klompen batik pun siap dipasarkan.

Dengan dibantu 10 karyawanya, Agus mampu menghasilkan sekitar 20 pasang klompen batik setiap harinya.

Meski daerah pemasaran hanya berkisar di pulau Jawa, seperti Jember, Surabaya dan Jakarta, Agus mengaku mampu meraup keuntungan 10 Juta Rupiah perbulan.(86)