Showing posts with label Kuda. Show all posts
Showing posts with label Kuda. Show all posts

TAKLUKKAN KUDA LIAR DENGAN TARIAN GANDRUNG


Kemolekan dan gerak penari gandrung di Banyuwangi ternyata mampu meluluhkan kuda pacu yang liar. Bahkan, kuda tersebut akan mengikuti gerak penari gandrung dengan lenggak -lenggok yang menarik. Kesenian yang mengkolaborasikan antara tarian gandrung dan kuda pacu tersebut disebut Jaran Kencak Paju Gandrung.

Kesenian kuda paju gandrung, tidak jauh berbeda dengan pertunjukan kesenian gandrung Banyuwangi pada umumnya. Dalam setiap tarian, juga di iringi gending gandrung Banyuwangi seperti podo nonton, sekar jenang, gurit mangir serta berbagai gending gandrung Banyuwangi lainnya.

Atraksi kuda menari bersama gandrung Banyuwangi ini di lakukan oleh dua ekor kuda yang ditungganggi sang joki tradisional. Kuda tersebut menari seolah mengikuti gerak penari gandrung. Bahkan, kuda pacu juga dihias sedemikian rupa, mulai dari kaki hingga kepala sehingga terlihat unik dan menarik untuk ditonton.

Meski pada umumnya kuda pacu tergolong liar dan beringas, namun dalam seni ini, kuda paju gandrung mampu menari bersama gandrung dalam satu arena pertunjukan.

Untuk bisa menghipnotis kuda, sang penari gandrung dituntut memiliki keterampilan dan kelihaian khusus, sehingga, penari harus bisa menghindar jika kuda terlihat mulai beringas.

Tidak hanya penari gandrung, namun, joki juga dituntut memiliki ketrampilan khusus menarikan dan mengendalikan kuda pacu di arena tari.

Kesenian ini berkembang dikalangan pengemar kuda pacu di Banyuwangi sekitar tahun 1990-an. Pada perkembangannya, komunitas ini hanya beberapa orang, namun saat ini, jumlahnya sudah mencapai seratus orang.

Untuk melestarikan seni tradisi kuda paju gandrung ini, para penggemar kuda pacu mengemas acara seni kuda paju gandrung ini untuk acara arisan anjang sana sebulan sekali atau hajatan bagi kumpulan penggemar kuda pacu.

MERAUP DOLLAR DARI BETERNAK KUDA PACUAN



Haji Atokillah, mantan joki pacuan kuda, asal Desa Tunggulwulung, Pandaan, Di Pasuruan, Jawa Timur, sukses menjadi peternak kuda pacu silang import dengan lokal indonesia. Kini, memiliki 30 ekor kuda dengan harganya mencapai ratusan juta.

Berawal dari hobi, lelaki berumur 50 tahun tersebut, sukses menjadi peternak kuda pacuan, hingga menghasilkan uang untuk kebutuhan keluarganya. Budidaya ini sudah di lakoninya selama 11 tahun.

Ide budidaya pacuan kuda muncul, saat menjadi penjoki kuda di tahun 90 an. Sepulang dari lomba, Ia melihat banyak kuda di daerah Pandaan. Maklum, di pandaan banyak kuda untuk menarik Delman. Ia mulai, mencoba mengkawinkan kuda betina lokal dengan kuda pacu pejantan yang diimport dari luar negeri milik kenalannya di Surabaya secara silang.

Hasil perkawinan silang ini kemudian menghasilkan kuda pacuan yang disebut Torobet. Merasa berhasil, Atokillah terus menekuni usahanya dengan cara ternak tradisional sehingga menghasilkan generasi atau turunan yang banyak diminati para anggota Persatuan Olah Raga Pacuan Kuda Seluruh Indonesia (Pordasi) Pengda Jawa Timur.

Dengan dibantu 3 karyawan, usahanya terus berkembang, bahkan ia mampu mengimport kuda pacu pejantan dari luar negeri seperti Amerika, Inggris, Australia dan Saudi Arabia.

Cara beternak silang kuda dengan cara tradisional, tidaklah sulit. Proses perkawinannya, kuda betina bila ada tanda-tanda birahi atau nafsu, di mandikan hingga bersih untuk menarik nafsu seks kuda pejantan dan di bawah ke kandang terbuka.

Di dalam kandang, kuda betina dituntun mengelilingi lapangan yang sudah disediakan oleh pemiliknya sampai urat-urat lemas. Hal ini, untuk menghindari kram kaki terutama di posisi depan. Sementara kuda pejantan torobet diikat dengan tali yang cukup panjang. Sebab, kuda pejantan biasanya kalau kawin, galak dan tidak mau terganggu.

Usai diikat kuda penjantan, di mandikan terutama di alat vitalitas untuk menghindari bakteri dan menjaga sperma lebih steril sehingga menghasilkan kuda pacu yang cukup bagus.

Kuda pejantan dilepas di kandang tersebut sehingga terjadi perkawinan yang cukup singkat. Hasil perkawinan, kuda betina membuahkan janin atau hamil dan di masukan ke dalam kandang.

Selang 11 bulan hingga satu tahun, kuda betina melahirkan seekor anak kuda. Setelah mencapai umur 3 s/d 5 bulan, anak kuda siap dijual.

Kini, H Atokillah mempunyai, 30 ekor kuda jantan dan betina, harganya sekitar 25 s/d 200 Juta per ekor. Sebab, kudanya sering menjuarai perlombaan pacuan kuda di Jawa hingga Sumatra dan Bali, di kelas A hingga E, dengan jarak sejauh 1 s/d 2 kilo meter.(86)