RITME SHALAWAT NABI YANG SYAHDU DI SAMMAN MADURA



Tarian Samman selain dikenal di wilayah Aceh, juga bisa di jumpai di wilayah pulau Madura. Tepatnya di Desa Larangan Tokol Kecamatan Tlanakan Pamekasan, Samman Madura di lakukan dengan melantunkan Shalawat Nabi sambil membentuk lingkaran.

Shalawat dalam Saman Madura di lantunkan dalam suasana gelap oleh sekelompok orang dengan posisi melingkar sambil sebagian bertepuk tangan beriringan dengan lantunan shalawat sehingga terdengar seperti irama musik yang syahdu.

Gerakannya di lakukan dengan ritme lemah hingga bertahap menjadi cepat. Dari beberapa gerakannya, mengandung makna tertentu. Berjalan sambil membentuk lingkaran merupakan simbol kehidupan yang akan selalu berputar namun manusia akan kembali ke asal penciptaanya. Konon, orang-orang yang terlibat dalam Samman ini bisa pingsan karena terbawa khusu’.

Terdapat 5 Paket irama Shalawat Nabi dalam Saman Madura, dimana 2 di antaranya di lakukan dengan duduk melingkar. Sementara 3 lainnya di lakukan dengan berdiri sambil bergerak melingkar.

Samman di Madura juga dikenal sebagai bagian dari Ibadah karena melantunkan puji-pujian kepada Nabi Muhammad SAW serta berisi syair bahasa Madura yang kental nilai religinya.

Di desa Larangan Tokol, Samman di gelar satu kali dalam seminggu dengan bergilir di rumah setiap anggota.

Tidak ada yang tahu persis, kapan awal mula Samman muncul dan berkembang di Madura. Namun sebagian warga menyakini, Saman Madura, diciptakan oleh Kiyai Umro dan Kiyai Sukriwa, tokoh pendiri Pondok Pesantren Sumber Anyar- Larangan Tokol.

Ritual Samman khas Madura, biasanya dilakukan selama kurang lebih 2 sampai 3 jam, hingga menjelang subuh. Lantaran gerakan berputar berkeliling, warga mengaku selain melestarikan kesenian, juga bermanfaat bagi kesehatan. Selain itu, ritual Samman juga di jadikan sebagai ajang silaturrahmi antar warga.